EDITORIAL

Pelajaran Berharga

DUA pekan lalu, isu penistaan agama merebak dari Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Editor: Duanto AS

DUA pekan lalu, isu penistaan agama merebak dari Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Gambar dan video lafaz Allah di bawah ornamen Natal di sebuah hotel berbintang di Kota Jambi, menyebar bak virus. Lafaz Allah yang dibingkai dalam rangkaian mirip telapak kaki melukai hati banyak orang, dianggap penistaan. Suasana hotel mencekam, hingga ditutup sementara.

Sejak peristiwa yang menghebohkan secara nasional itu, polisi langsung bekerja. Puluhan orang dipanggil dan diperiksa, mencari titik terang untuk mengungkap pelakunya. Seiring dengan itu, aksi demonstrasi berjalan di berbagai titik, mengutuk perbuatan pelakunya, dan meminta kepolisian menangkap pekaku. Berbagai tuntutan lain turut dikumandangkan mereka.

Dua pekan setelah tersebarnya gambar dan video yang menghebohkan itu, publik akhirnya bisa tahu siapa yang telah berulah. Kapolda Jambi, Brigjen Pol Yazid Fanani, saat konfrensi pers pada Kamis (5/1), mulai membuka tabir. Pelakunya ternyata seorang pemuda yang berinisial RZ. Sementara motifnya, dari keterangan Kapolda, tersangka sakit hati pada manajemen hotel.

Pelaku juga ternyata pegawai harian lepas di hotel berbintang tersebut. Berdasarkan motif yang telah diungkapkan Kapolda itu, secara tersirat menunjukkan bahwa pelaku melakukannya bukan atas perintah manajemen hotel. Justru perbuatan itu dilakukan tanpa sepengetahuan manajemen.

Kita patut mengapresiasi kinerja polisi yang sudah mulai membuka tabir gelap kasus bernuansa SARA ini. Setelah penetapan RZ sebagai tersangka, polisi masih terus bekerja, sedang berusaha mengungkap kemungkinan ada orang lain yang bekerjasama dengan RZ, atau justru memperalat RZ yang sedang merasa terzolimi itu. Kita berharap kasus ini bisa segera terang-benderang.

Bila kembali menoleh ke belakang, kasus dugaan penistaan agama di hotel itu telah memperkeruh suasana dan kedamaian di Jambi. Menyeruak rasa saling curiga. Umat Muslim banyak yang telah diaduk emosionalnya melihat gambar itu. Umat Nasrani, yang sedang dalam suasana Natal, juga diaduk perasaannya, sebab peristiwa itu memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi mereka.

Kita bersyukur semua yang dikhawatirkan sebagai dampak penyebaran gambar dan video yang sangat sensitif itu, bisa diredam. Gejolaknya tidak sampai seperti yang terjadi di DKI Jakarta. Tokoh agama di daerah ini mampu menciptakan suasana damai, demikian juga elit daerah, yang bisa mengendalikan situasi agar bisa tetap aman dan tenteram.

Terungkapnya tersangka dan motifnya, kiranya bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua warga di daerah ini. Kita belajar lagi, betapa isu agama itu sangat sensitif. Pelajaran lainnya ialah betapa ulah kecil kita bisa berdampak besar, mengguncang negeri ini. Pelajaran penting lainnya adalah, kita diingatkan, bahwa harus siap-siap masuk penjara saat melakukan perbuatan melawan hukum.

Kiranya kasus dugaan penistaan agama ini bisa menjadi pelajaran untuk membuat daerah ini lebih baik lagi. Jangan sampai kerukunan dan kedamaian di daerah ini tercabik-cabik oleh karena ulah dari satu dua orang. Jambi negeri yang damai, negeri yang indah, mari kita jaga bersama. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved