Jumat, 17 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Petani Heran Produksi Sawitnya tak Sesuai Harapan

Ketua Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Bungo, Surya menyebut harus ada pelatihan terhadap petani.

Penulis: Awang Azhari | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/AWANG AZHARI

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Awang Azhari

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO -‎ Sampai saat ini sebagian besar petani karet sudah mulai beralih ke perkebunan kelapa sawit, namun sayangnya perubahan ini dilakukan petani tanpa pemahaman yang memadai.

Hasilnya, kelapa sawit petani tidak terlalu produktif. Tak heran jika kemudian banyak petani yang sudah melakukan alihfungsi lahan namun hasil yang didapat di luar ekspektasi.

"‎Kami juga heran kabarnya hasil panen di Kuamang Kuning lebih besar, kalau kita kok biasa saja, minim nian," sebut seorang petani sawit di Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Rahman, Selasa (27/9).

Ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak agar alihfungsi lahan tersebut diimbangi dengan sumberdaya manusia.

Ketua Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Bungo, Surya menyebut harus ada pelatihan terhadap petani.

Dengan begitu, alihfungsi lahan benar-benar bisa mengubah kondisi ekonomi masyarakat.

Baca juga:

KOK ADA FOTO WANITA BERKERUDUNG DI MAJALAH PLAYBOY?

"Kelemahan petani selama ini tidak mengetahui secara persis pengelolaan kelapa sawit, karena latar belakang mereka bermacam-macam, ada petani padi, ada petani karet," jelas ‎Surya.

‎Belum lama ini kata Surya, Apkasindo mencoba untuk melatih perwakilan petani sawit dari semua kecamatan di Kabupaten Bungo, ini dinilai urgen karena jika tidak segera dilatih, bisa-bisa petani merugi.

‎"Kebetulan sesuai PP 24/2015 tentang PDP, setiap ekspor CPO, dikenakan pungutan dana 50 USD per ton oleh pemerintah.‎ Alokasi dana tersebut, pertama untuk biodiesel 90 persen, 10 persen replanting dan peningkatan SDM, nah kemarin dana itu (atas alokasi pemerintah pusat) kita gunakan untuk melatih petani," kata Surya.


‎Dalam pelatihan yang bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta, hal paling dasar diberikan kepada petani seperti soal pembibitan, kesalahan dalam melakukan pembibitan atau memilih bibit akan sangat fatal, diantaranya buah yang tak produktif.

"Kemudian soal replanting, tentu proses replanting tidak bisa asal, ini harus diberi pemahaman kepada petani, termasuk soal hama penyakit yang sering menyerang sawit," ulas Surya.

Bahkan menurutnya, kini petani bisa mengembangkan kawasan perkebunannya dengan pola pinjaman yang dilakukan ke bank.

"Karena itu kita datangkan Bank Jambi untuk melatih petani agar faham soal proses peminjaman untuk sektor perkebunan."

Dalam pengembangan petani, juga penting adanya kerjasama dengan perusahaan, karena biasanya perusahaan lebih ideal ‎dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit.

"Kita ada kerjasama dengan PT SAL II dan III untuk ikut memberi pemahaman kepada petani, kemudian dengan KUD Karya Mukti (Kuamang), untuk replanting dengan PT Jamika Raya dan PT TKA," pungkasnya.

Harapannya, pengembangan sumberdaya petani ini, ditularkan kepada petani lain, sehingga lahan perkebunan yang sudah dibuka benar-benar bisa memberi manfaat besar terhadap setiap keluarga.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved