Analisis Evolusi Taktik Teror
Taktik itu mengalami perubahan. Kini, pelaku teror tak lagi menjadikan serangan kelompok dengan biaya besar sebagai taktik utama.
Kesadaran yang lain adalah bahwa intensifikasi penyerangan fisik melalui aksi bom bunuh diri berskala besar dianggap tak lagi efektif untuk perekrutan tenaga baru serta keberlangsungan gerakan jihad-cum-terorisme untuk babakan waktu yang panjang.
Rentetan aksi fisik dianggap hanya penting untuk tujuan akhir, tetapi akan mandul untuk kepentingan jangka panjang.
Mengapa begitu? Karena tidak ada mekanisme yang bersifat masif, tetapi efektif untuk mengembangkan ideologi jihad-cum-terorisme ke khalayak lebih umum. Sementara itu, aksi fisik, utamanya melalui bom bunuh diri, hanya akan mengurangi daftar anggota jemaah semata.
Karena itu, pelaku gerakan terorisme merasa sangat perlu untuk melakukan pemutaran haluan dari aksi fisik ke penyebaran ideologi jihad-cum-terorisme melalui media publikasi populer. Inilah yang menjadi kesadaran awal bagi muncul dan menguatnya industri publikasi populer yang berorientasi jihad-cum-terorisme dalam babakan waktu yang lalu hingga belakangan ini.
Masa penguatan industri publikasi populer berorientasi jihad- cum-terorisme di atas dimanfaatkan pula oleh pelaku gerakan terorisme untuk sekaligus melakukan konsolidasi gerakan melalui aksi fisik.
Selanjutnya, muncul strategi atau model ketiga, yakni revitalisasi terorisme melalui aksi fisik dalam bentuk bom bunuh diri berskala besar. Terjadinya Bom JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 adalah buktinya. Artinya, munculnya model gerakan ketiga ini merupakan penguatan kembali atas model gerakan yang pertama.
Munculnya model ketiga sebagai pengulangan atas model pertama di atas tidak saja memanfaatkan buah konsolidasi selama "masa tiarap" dan masifikasi aktivitas industri publikasi jihad-cum-terorisme. Akan tetapi, ia juga harus dibaca sebagai aksi pembalasan terhadap eksekusi mati atas mentor mereka oleh aparat keamanan.
Eksekusi atas trio bom Bali (Imam Samudera, Amrozi, dan Ali Ghufron) menjadi energi tambahan bagi pelaku teror untuk melakukan aksi balasan.
Besarnya liputan media atas proses eksekusi serta kedatangan massa umum dalam jumlah sangat besar saat pemakaman trio bom Bali meningkatkan kepercayaan diri pelaku teror. Mereka merasa seakan jadi "pahlawan" bagi sebagian masyarakat lain yang mereka salah pahami sebagai simpatisan diam (silent supporters).
Persempit ruang gerak
Ketatnya pengawasan aparat keamanan dengan melibatkan tim gabungan, mulai Densus 88 hingga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), membuat pelaku gerakan terorisme harus memutar haluan.
Pengawasan yang ketat itu membuat pergerakan kelompok pelaku teror, mulai jaringan Solo hingga Poso, semakin sempit dan terimpit.
Kondisi itu yang memaksa pelaku gerakan terorisme di daerah lain mengubah taktik, dari serangan fisik berkelompok dan dalam skala besar ke serangan individual. Inilah pola atau model keempat dari pergerakan pelaku terorisme di negeri ini.
Ini pula yang menjelaskan munculnya serangan bom bunuh diri individual dalam kasus yang terjadi di Masjid Mapolresta Cirebon pada 15 April 2011 dan Mapolresta Solo pada 5 Juli 2016. Meski demikian, serangan secara berkelompok masih juga dilakukan, seperti dalam kasus serangan bom di kawasan MH Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016.
Melihat pergeseran pola dan atau model gerakan di atas, maka kewaspadaan bersama tidak boleh kendur. Semangat dan aksi terorisme tinggal menunggu kesempatan untuk terlahir kembali. Apalagi, jaringan terorisme memakai sistem sel. Dengan pola kerja semiterputus, sel terorisme itu akan dengan mudah berkembang biak secara liar.
Karena itu, tugas bersama ke depan adalah mempersempit ruang bagi lahirnya kesempatan bagi mewujudnya kembali semangat dan aksi terorisme itu.
Akh Muzakki, Dekan dan Guru Besar FISIP UIN Sunan Ampel
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/23072016-pasukan-elite-jerman_20160723_233523.jpg)