Smart Women
GALERI FOTO: Pernah Diisengin Senior saat MOS
TAHUN ajaran baru telah dimulai. Berbeda dari sebelumnya tahun ini tidak ada lagi perploncoan.
Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - TAHUN ajaran baru telah dimulai. Berbeda dari sebelumnya tahun ini tidak ada lagi perploncoan. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan yang baru saja diganti, Anies Baswedan meniadakan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang menjadi momok bagi setiap siswa baru.
Alasan menteri saat itu bukan tanpa sebab, banyaknya temuan perpeloncoan saat MOS berlangsung memang membuat gerah. Apalagi sudah menjadi rahasia umum akibat plonco tak sedikit siswa mengalami kekerasan fisik dan trauma mendalam, bahkan timbul korban jiwa karenanya.
Namun bagi Dwi Oktalia (23), lulusan FKIP, Universitas Jambi jurusan Bahasa Inggris penghapusan MOS tidak sepenuhnya positif. Dara kelahiran 28 Oktober 1992 ini tidak sepakat dengan peniadaan kegiatan MOS tersebut.

Bagi penerima beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) batch II 2016 ini pada hakikatnya MOS merupakan kegiatan yang berguna bagi siswa baru.
"Pada hakikatnya MOS itu untuk mengenal sekolah dan lingkungannya. Yang perlu dihapuskan itu budaya "pelonco" nya," tegas perempuan yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas Negeri Yogyakarta ini pekan lalu kepada Tribun.
Dwi yang ingin menjadi Magister Teknologi Pembelajaran ini mengatakan dalam kegiatan MOS seharusnya tidak perlu pakai atribut yang tidak jelas dan kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengenalan sekolah.
"Perkenalan itu bisa dilakukan dengan tahap pengenalan sekolah dan lingkungannya, termasuklah kegiatan ekskul dan lain-lain. Karena dalam kegiatan itu bisa dilakukan presentasi dan sesi tanya jawab. Khusus untuk ekskul bisa menunjukkan kelebihan ekskul nya agar menarik minat siswa baru turut bergabung," jelasnya.
Menurut Lia, bukan MOS-nya yang dihapus melainkan kegiatan yang berlangsung selama MOS yang mesti dibenahi dan dipastikan tidak ada perpeloncoan di dalamnya.
Sekolah harus memastikan MOS berjalan sebagaimana yang diharapkan dan tidak melepas seluruh kegiatan pada kakak kelas sehingga kegiatan bisa terkontrol dengan baik sebagaimana mestinya. (rida efriani)
Usil tapi Masih Wajar

MENGIKUTI Masa Orientasi Siswa (MOS) menjadi satu diantara pengalaman yang tak terlupakan oleh Lia. Dikisahkannya, sewaktu mengikuti MOS saat masuk SMA ia sempat mengalami tingkah usil kakak kelas. Namun menurutnya, hal tersebut masih dalam tahap wajar dan tidak menimbulkan rasa trauma dalam dirinya.
"Pernah diisengin senior. Disuruh cari salah satu senior yang namanya ditentuin. Nah selama mencari itu ada kakak kelas yang mengaku-aku eh setelah diselidiki ternyata salah orang," kenangnya.
Lia pun disuruh kembali menjadi kakak kelas yang dimaksud sampai akhirnya ia menemukan orangnya dan diusilin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/01082016_dwi_20160801_183829.jpg)