Minggu, 12 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Ramadan

Mencari Kesalahan Orang Lain dan Bergunjing, Sama dengan Memakan Bangkai Temannya

TERDAPAT peringatan di Alquran yang sangat keras bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk

Editor: Fifi Suryani
Net
Ilustrasi memfitnah 

Oleh: Komaruddin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah)

TERDAPAT peringatan di Alquran yang sangat keras bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat ghibah, yaitu membicarakan kejelekan teman sendiri dari belakang.

Coba simak surat 49: 12. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sikap suka berprasangka karena sebagian prasangka itu tidak selalu benar dan medatangkan dosa. Jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta saling menggunjingkan teman, membicarakan hal-hal yang kamu pandang buruk di saat temanmu tidak di tempat.

Yang demikian itu, bukankah sama halnya kamu menikmati bangkai temanmu, yang tentu saja menjijikkan? Di sini Alquran menggunakan ungkapan sangat keras. Mencari-cari kesalahan teman lalu dijadikan bahan gunjingan itu tak ubahnya makan bangkai temannya.

Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap.

Lalu, mengapa bangkai? Karena mungkin sekali apa yang digunjingkan itu tidak benar, mengandung fitnah, sementara orang yang dijadikan sasaran tidak bisa membela diri karena tidak berada di tempat, sehingga tak berdaya bagaikan mayat atau bangkai.

Kalau saja yang berbuat ghibah sadar pasti merasa jijik karena yang tengah dinikmati itu oleh Alquran diidentikkan dengan bangkai. Berprasangka buruk (suudhon) adalah pangkal fitnah.

Orang membangun cerita negatif tentang orang lain, padahal itu hanya imajinasi yang muncul dari rasa iri dan dengki. Jika cerita itu sampai ke orang lain atau yang bersangkutan, sangat mungkin akan berkembang lebih jauh lagi menjadi kebencian, permusuhan, dan perkelahian.

Akibat yang ditimbulkan dari fitnah skalanya bisa lebih besar dan lebih berbahaya dari pembunuhan. Fitnah ini mudah sekali menyelinap melalui jargon dan mekanisme demokrasi, misalnya saja di saat menjelang pilkada atau pemilu.

Antarcalon dan pendukungnya tidak segan-segan mengintip, mencari-cari dan mengorek kekurangan lawan. Jika ditemukan, kekurangan yang lalu dibesar-besarkan. Hal-hal gang sifatnya pribadi lalu dibuka secara terbuka ke publik.

Yang lebih bahaya lagi, jika ternyata tidak ditemukan kesalahan, maka diciptakan berita bohong untuk menjatuhkannya.

Makanya dalam masyarakat muncul kesan kuat, politik itu kotor, penuh kebohongan, dan saling membunuh lawannya. Kata politik dan demokrasi yang pada dasarnya bagus serta mulia, lalu ternodai menjadi kotor.

Munculnya teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone, masyarakat begitu cepat menyebarkan berita gosip dan fitnah. Hanya dengan copy paste (copas) sebuah berita yang kadang bernada fitnah menyudutkan seseorang atau kelompok, bisa tersebar hanya dalam hitungan menit, menyebar ke ratusan ribu orang.

Ada lagi fitnah itu ditampilkan menggunakan bahasa gambar atau foto yang sudah diubah dan dimanipulasi. Foto wajah dan tubuh orang lain namun dimanipulasi seakan orang yang sama, dimaksudkan untuk memperolok.

Di samping fungsinya yang positif untuk menjaga pertemanan dan berbagi ilmu, media sosial juga banyak disalahgunakan untuk membunuh karakter seseorang (character assasination). Semua ini jelas tidak sejalan dengan etika Alquran.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved