Modal Asing Incar Jambi

Otto Riadi, mengatakan pihaknya sudah dihubungi banyak investor, baik yang sudah berkoordinasi untuk sektoral atau belum.

Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Duanto AS

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Provinsi Jambi bakal menjadi incaran investor luar negeri pada 2017. Sejumlah investor dari Tiongkok dan Eropa sudah menjalin kontak dengan Badan Penanaman Modal Daerah dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMD PPT) Provinsi Jambi.

Kepala BPMD PTT Provinsi Jambi, Otto Riadi, mengatakan pihaknya sudah dihubungi banyak investor, baik yang sudah berkoordinasi untuk sektoral atau belum. Mereka mengincar beberapa sektor penting, di antaranya energi, kelistrikan, pelabuhan Ujung Jabung, hilirisasi karet dan CPO, bio mass, bahkan pengolahan sampah dan air bersih.
"Ada dua kelompok besar (investor) yang saya selalu kategorikan. Pertama dari Tiongkok dan non-Tiongkok," ungkap Otto, ujarnya.
Investor Tiongkok kategori pertama, advisor yang tertarik sektor utama, yaitu energi. Mereka sedang menggali informasi sektor itu, tidak terlepas dari rancangan umum PLN pada 2015-2024 dan 2016-2025. Investor ini berminat pada alokasi infrastruktur sektor kelistrikan dan berharap membangun PLTU (pembangkit listrik tenaga uap).
Kedua, yang tertarik pengembangan kawasan Ujung Jabung. Pembicaraan ini biasanya berkisar pada dua hal, yaitu pelabuhan dan kawasan industri. Ketiga, investor terkait hilirisasi komoditi utama Jambi, crude palm oil (CPO) dan karet.
Sementara untuk investor non-Tiongkok, Otto mengungkapkan banyak yang berminat di sektor infrastruktur kelistrikan non-fosil atau energi terbarukan, semisal biomass. Selain itu, rencana pengembangan sentra ternak rakyat, karena bisa menjadi pemasok bahan baku utama biomass. "Ini tidak berkaitan dengan PLTU, tapi energi baru dan terbarukan. Yaitu air PLTA, biomass, karena ini terkait dengan limbah sawit," katanya.
Investor non-Tiongkok juga berminat ke sektor pelabuhan Ujung Jabung. Namun, Otto belum bersedia menyebut nama perusahaan. "Saya tak usah sebut perusahaamya karena sudah di-approach juga dari kelompok investor eks-Jerman. Mereka kelompok investor yang sudah berada di Indonesia, tapi mereka dari masyarakat Eropa, bukan orang Jerman saja tapi ada orang Perancis," katanya.
"Mereka ada diasosiasi investor EU (Uni Eropa). Mereka akan masuk sektor terkait pengelolaan sampah, air bersih. Yang jadi persoalan lingkungan," katanya.
Otto menyebutkan para investor akan masuk secara lebih dalam ke Jambi pada 2017. Menurutnya, karena akan diterapkan undang-undang otonomi, maka pengaturan ketat sudah diberlakukan. Pihaknya meminta investor langsung membuat perencanaan.

30 Persen dari Asing
Perbandingan investasi masuk Provinsi Jambi, penanaman modal dalam negeri (PMDN) 70 persen dan penanaman modal asing (PMA) 30 persen. "Untuk PMDN saja realisasinya mencapai angka Rp 3,8 triliun, sedangkan PMA Rp 1,2 triliun. Yang paling banyak investor melakukan re-investasi, karena adanya kepercayaan dari perusahaan yang sudah berinvestasi di Jambi," jelasnya.
Dari banyak investasi yang masuk, sektor perkebunan kelapa sawit dan karet masih mendominasi. Kemudian disusul sektor industri, seperti kehutanan dan pertambangan.
Selama periode 2010-2015, Otti menjelaskan realisasi investasi melebihi target atau mencapai Rp 46,5 triliun dari target yang ditetapkan sebesar Rp 40,6 triliun. Sementara target investasi pada 2016 naik 10 persen dari sebelumnya Rp 4 triliun. "Kita menargetkan nilai investasi tahun ini bisa mencapai Rp 4,4 triliun atau naik sebesar 10 persen, sesuai ditargetkan Pemerintah Pusat," kata Otto.

Peluang Serap Pengangguran
Meski kondisi ekonomi global sedang melemah, pihaknya optimistis target tercapai, mengingat harga komoditas unggulan Jambi karet dan CPO telah menunjukkan arah lebih positif.
"Banyak investor yang komitmen di tahun 2015 itu, mereka akan mengisi komitmennya atau merealisasikan investasinya di tahun 2016 ini," katanya. Jika target tercapai, kata Otto, setidaknya akan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, jumlah pengangguran hingga Februari 2016 ada 79.000 orang. Angka ini bertambah 32.000 orang dibandingkan Februari 2015. "Ini dampak kelesuan ekonomi dirasakan pelaku usaha di Provinsi Jambi terutama di sektor industri pengolahan dan subsektor perkebunan, menjadikan penyerapan tenaga kerja tidak optimal," Dadang Hardiwan, Kepala BPS Provinsi Jambi.
Selain itu, pekerja di sektor pertanian berkurang sebanyak 60,4 ribu atau turun 7,36%. Kondisi ini terutama disebabkan turunnya produksi sawit dan karet yang merupakan komoditas unggulan subsektor perkebunan Provinsi Jambi.
"Di sektor industri berkurang 33,1 ribu orang atau turun 36,74%. Kondisi ini tidak lepas dari kelesuan ekonomi lokal maupun nasional," kata Dadang.
Penyerapan tenaga kerja sampai Februari 2016 masih didominasi penduduk bekerja berpendidikan rendah yaitu SD ke bawah sebanyak 662,8 ribu orang (40,99% ) disusul SMA umum 310,9 ribu orang (19,23%) dan SMP 309,7 ribu orang (19,15%), bekerja dengan pendidikan SMA Kejuruan 114,5 ribu orang (7,08%). Sementara itu pekerja berpendidikan tinggi sebanyak 219,3 ribu orang (13,56%)
"Struktur lapangan pekerjaan sampai dengan Februari 2016 tidak mengalami perubahan dimana sektor pertanian, perdagangan, dan jasa kemasyarakatan secara berurutan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan jumlah jam kerja pada Februari 2016, sebanyak 908,7 ribu orang (56,19 persen) bekerja diatas 35 jam perminggu, sedangkan penduduk bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 15 jam perminggu mencapai 119,8 ribu orang (7,41 persen). 

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved