Saatnya Ekspor Appraisal ke Myanmar

Pemerintah meyakini, selain ancaman Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga menawarkan peluang

Editor: Fifi Suryani
KONTAN/FRANSISKUS TAMPUBOLON

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Pemerintah meyakini, selain ancaman Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga menawarkan peluang.

Salah satunya peluang adalah di bidang jasa penilai aset alias appraisal.

Saat ini banyak negara-negara di kawasan ASEAN yang membutuhkan jasa penilai aset.

Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam Musyawarah Nasional XI Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Munas MAPPI) Jumat (29/1).

Menurutnya, kualitas appraisal dalam negeri tidak kalah dengan negara lain.

Oleh karena itu, penilai dalam negeri harus mulai ekspansi ke luar negeri, misalnya Myanmar.

"Myanmar (Sedang) menggerakan eknominya dari terutup menjadi terbuka," kata Bambang, Jumat (29/1) di Jakarta.

Ia mengingatkan appraisal dalam negeri jangan hanya memanfaatkan pasar sendiri.

Seperti diketahui, pemerintah tengah mendorong sejumlah perusahaan melakukan revaluasi aset.

Untuk melakukan revaluasi aset diperlukan jumlah penilai yang banyak. Hal ini membuat tarif jasa penilai di dalam negeri melonjak.

Tetapi kalau hanya melihat pasar dalam negeri, maka akan kehilangan kesempatan dan peluang di negara lain.

Padahal sejumlah negara sudah mulai melirik pasar Indonesia.

Jika appraisal bisa melakukan ekspansi ke luar negeri, maka hal ini akan menguntungkan tidak hanya bagi mereka.

Pemerintah juga akan terbantu karena neraca jasa akan membaik.

Selama ini neraca jasa Indonesia memang selalu negatif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved