Seperti Inilah Masa Depan Batu Bara

Sepanjang tahun ini, harga juga sudah tergerus sebesar 14,9%.

Editor: Duanto AS
KONTAN
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Masa depan komoditas batu bara semakin suram. Pertemuan perubahan iklim dunia di Paris pada awal Desember 2015 menyepakati pengetatan emisi karbon.

Mengutip Bloomberg, Senin (21/12), batubara kontrak pengiriman Februari 2016 di ICE Futures Exchange turun 0,96% ke level US$ 51,10 per metrik ton. Ini harga terendah sejak Maret 2011.

Sepanjang tahun ini, harga juga sudah tergerus sebesar 14,9%. Bank of America Corp melaporkan, saat ini, dunia masih memiliki cadangan batubara sebesar 890 miliar ton. Jumlah tersebut bisa digunakan hingga 65 tahun ke depan.

Jika para petinggi negara di dunia sepakat melaksanakan hasil pertemuan di Paris, sekitar 50% cadangan batubara tidak akan pernah digali. Maklum, pengurangan pembakaran batubara dinilai sebagai cara termudah menurunkan emisi karbon yang berefek pada perubahan iklim global.

"Inisiatif pengurangan emisi karbon yang terbaru menjadi peti mati bagi batubara dunia," ungkap Sabine Schels, Peter Helles dan Franciso Blanch, analis Bank of America, dalam laporan yang dirilis 18 Desember 2015.

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto menilai, nyaris tidak ada sentimen yang berpotensi mendongkrak harga batubara. Bahkan, permintaan dari negara pengguna batubara terbesar, China dan India pun mengering.

Maklum, banyak negara mulai mengembangkan penggunaan energi terbarukan. Pada 18 Desember 2015, International Energy Agency (IEA) melaporkan, permintaan batubara sudah berhenti tumbuh sejak tahun 2014.

Ini pertama kali terjadi sejak tahun 1990 silam. Penurunan permintaan paling signifikan dari Amsterdam, Rotterdam, dan Antwerp. Transaksi pengiriman jeblok ke posisi terendah dalam delapan tahun terakhir.

Padahal, ketiga wilayah ini merupakan tulang punggung untuk pengiriman batubara ke wilayah Atlantik. Pasar batubara juga semakin tertekan dengan jebloknya harga minyak mentah dunia. Harga bisa turun 15%

Dengan fundamental permintaan loyo dan cadangan yang melimpah, Guntur memperkirakan, rata-rata tahunan harga batubara bisa tergerus 10% hingga 15% pada tahun depan.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tri Wibowo menilai, harga komoditas legam ini memang sudah lama memasuki fase konsolidasi. "Tidak ada pergerakan harga yang berarti. Sebab, memang daya tarik batubara semakin pudar," ujarnya.

Itu sebabnya, Wahyu menduga, hingga akhir tahun ini, harga batubara masih akan stuck di level rendah. Meskipun ada sinyal kenaikan permintaan dari India dan Asia Tenggara, tidak akan signifikan menopang harga.

“Tapi, sekalipun menurun, support kuat harga batubara tahun ini masih di level US$ 50 per metrik ton," prediksinya. Dari sisi teknikal, harga batubara juga terlihat dalam tekanan. Harga bergulir di bawah moving average (MA) 50, 100 dan 200.

Ini menegaskan tren bearish. Garis moving average convergence divergence (MACD) juga di area negatif 0,34, sehingga berpola downtrend. Lalu, indikator stochastic level 40,34, terus mengarah turun.

Hanya, relative strength index (RSI) yang masih terus turun di level 24,39 sudah mendekati area jenuh jual alias oversold. Artinya, ada potensi rebound.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved