Kunjungan Presiden

Bertemu Presiden, Orang Rimba Serasa Bertemu Arwah Orangtua

tak hanya Meriau dan Nyerak, rasa haru dikunjungi Presiden juga diungkapkan

Bertemu Presiden, Orang Rimba Serasa Bertemu Arwah Orangtua
TRIBUNJAMBI/QOMARUDDIN
Meriau (kanan) didampingi Kopka Inf Husni Thamrin (enam dari kanan) 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Qomaruddin

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Tak hanya Meriau dan Nyerak, rasa haru dikunjungi Presiden juga diungkapkan Tumenggung Grib, Kelompok SAD di Perumahan Bansos Punti Kayu 1 Desa Bukit Suban. Selaku Tumenggung yang langsung berbicara dengan Presiden di titik kedua, dia mengaku menyimpan cerita tersendiri.

"Kemarin ngobrol dengan Presiden langsung," ujarnya. Di samping berburu dan berkebun sebagai mata pencarian, Tumenggung Grib, pertemuan dengan presiden memberikan motivasi tersendiri. Sebab Jokowi dianggapnya bapak sendiri kala masih hidup, menyayangi mereka dan selalu ada di saat susah.

"Sayang memang gak lama tapi kita sangat senang. Bagaimana tidak, kita ibarat ketemua arwah orang tua kita yang sudah meninggal kemudian hidup lagi. Ya, seolah olah gak ada, tapi nyatanya ada. Bisa bertemu presiden," katanya. "Apa yang kita minta, langsung dipenuhi presiden. Pastilah semua orang bangga, kita gak ada penerangan dan penerangan. Kemarin langsung dibantu tuk gali sumur dan listrik," ujarnya.

Dengan keterbatasan yang dimiliki, hanya berpatokan pada hasil buruan dan memungut hasil hutan bukan kayu (HHBK). Bagi Grib, tak ada mata pencarian yang bisa dilakukan kelompoknya, dirinya tetap menjadikan aturan hukum sebagai adat istiadat yang harus dipegang teguh. "Kita apalah, cuma nyari rotan, damar, jernang dan motong agar bisa makan. Tapi bagi kami adat istiadat harus dipegang teguh," ujarnya.

Misal pantangan anak rimba nikah tanpa persetujuan kedua orang tua dan kemudian kawin lari. "Itu ada sanksi yang kami tegakkan. Didenda kain, baik pelanggaran laian tetap diukur dengan kain. Kalau dak ada baru duit," terangnya. Selain itu, yang tak boleh dilanggar SAD dan kategori luka tinggi, ketika melukai kaki, mata dan tangan akan disanksi berat. Sebab itu sumber penghidupan mereka.

Dan katanya pun, sanksi itu dilakukan, agar kejadian sama tidak diulang terulang lagi dan bagian dari efek jera. Di titik dua Perumahan Kemensos, Grib menyatakan, jika di kelompoknya memiliki tingkatan struktur seperti Tumenggung dilanjutkan Depati, Mangku dan Anak dalam. "Tapi wakil kita di setiap tingkatan itu ada kok. Tingkatan paling bawah Menti," terangnya. (*)

Penulis: qomaruddin
Editor: suang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved