Royalti Batu Bara Merosot Drastis
Terpuruknya harga batu bara membuat sejumlah perusahaan batu bara yang ada di Jambi terpaksa tidak lagi beroperasi
Penulis: bandot | Editor: Nani Rachmaini
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Bandot Arywono
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Terpuruknya harga batu bara membuat sejumlah perusahaan batu bara yang ada di Jambi terpaksa tidak lagi beroperasi, akibatnya royalti yang diterima Pemerintah Provinsi Jambi dari batu bara juga merosot drastis. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi Gamal Husin.
Anjloknya harga batu bara sejak beberapa tahun terakhir yang hanya di kisaran Rp 268 ribu - Rp 300 ribu/ton membuat sejumlah perusahaan batu bara tidak lagi melakukan aktivitas jual beli. Normalnya per ton itu Rp 900 ribu sampai Rp 1 jutaan, tapi sejak anjlok hanya kisaran Rp 300 ribu/ton, wajar kalau mereka tutup," kata Gamal.
Dari sebanyak 77 perusahaan batu bara yang telah dinyatakan clean and clear di Provinsi Jambi, menurut Gamal hanya 11 di antaranya yang masih terus melakukan aktivitas. Lainnya menurut Gamal meski masih melakukan eksploitasi tapi lebih banyak melakukan penumpukan di stockpile menunggu harga batu bara kembali normal. "Hanya 11 perusahaan yang beroperasi, itu karena perusahaan ini memiliki market yang jelas, misal untuk suplai PLTU maupun PLTG," katanya.
"Tapi nanti kalau harga sudah normal kembali mungkin mereka kirim lagi atau kalau mereka sudah punya market yang jelas," katanya. Akibatnya royalti dari tambang batu bara yang biasanya per tahun pemerintah mendapatkan Rp 86 miliar juga mengalami penurunan yang sangat drastis. "Bisa jadi royalti kita turun biasanya kita dapat Rp 86 miliar/tahun sekarang maksimal paling-paling Rp 20 sampai Rp 30 miliar, itu sejak 2013 yang lalu," katanya. (*)