Wali Kota Ini Punya Batu Berlafaz Allah
Demam batu. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan euforia betapa berbagai kalangan menggandrungi indahnya batu-batu alam.
TRIBUNJAMBI.COM - Demam batu. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan euforia betapa berbagai kalangan menggandrungi indahnya batu-batu alam. Mulai dari batu akik hingga permata. Dari masyarakat biasa hingga para elite. Termasuk di Kalbar.
Euforia ini juga menghinggapi Wali Kota Pontianak, Sutarmidji. Awal-awal Midji sudah menegaskan, semua koleksinya dilaporkan dalam harta kekayaannya. Orang nomor satu di Kota Pontianak ini mengoleksi cincin dengan rata-rata semua jenis batu alam. Satu yang paling disukai Midji adalah batu akik koleksinya yang berlafaz Allah.
Batunya berwarna cokelat muda bening. Jika diperhatikan, terlihat jelas, corak lafaz Allah di cincin tersebut. Jika dipandang lebih seksama lagi, coraknya juga mirip kubah masjid. Midji pun berbagi cerita tentang batunya yang satu ini.
Ia mengaku mendapatkan batu akik berlafaz Allah itu dari syech ternama Kota Pontianak, Almarhum Syech Abdurrahman Faloga. "Batu berlafaz Allah ini saya dapat dari Almarhum Syekh Abdurrahman Faloga. Itu guru saya untuk diskusi masalah agama. Sama-sama suka batu juga," kata Midji kepada Tribun di Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Rabu (4/2/2015).
Midji menuturkan selain batu berlafaz Allah, almarhum juga menyerahkan batu Ruby kepadanya. Ruby ini sangat berkesan baginya. "Ini (Ruby) saya dapatkan juga dari Beliau. Sebelum meninggal, Beliau memaksa agar batu ini diserahkan kepada saya. Dititip ke lurah untuk saya. Pokoknya batu itu harus diserahkan ke saya malam itu juga. Dua malam setelah itu, Beliau meninggal," kenang Midji.
Midji juga punya batu akik lainnya yang tak kalah unik. "Ada satu lagi batu saya, mirip orang salat dengan posisi duduk di antara dua sujud. Sama-sama batu jenis akik. Juga sama, berwarna coklat," ujarnya.
Wali Kota juga sempat menyinggung harga batu koleksinya. "Kalimaya saya ada 4 buah. Kemudian ketika pertemuan di Jakarta, ada satu bupati yang tertarik. Saya belinya Rp 7 juta, tapi dia transfer ke rekening saya Rp 65 juta," imbuh Midji.
Ia menilai, harga jual batu tidak dapat dipastikan. Harga tergantung. Ketika seseorang melihat batu itu, lalu merasa senang dan tertarik memilikinya. "Saya tidak tahu juga apa yang dipandang. Tapi kalau menurut saya warnanya kadang kemerahan. Terkadang juga banyak warna dan itu kalimaya dari Banten punya. Jadi batu itu minat seseorang," tegas Midji.
Ia mengaku tertarik dengan batu alam berkilau ini saat duduk di bangku SMA. "Koleksi batu sejak SMA. Saya jual koran, majalah, dan tiket kapal. Kemudian punya duit sendiri dan senang dengan batu. Pertama kali beli Zamrud, Kelas 2 SMA seharga Rp 1.700. Ikatan 20 gram emas. Masih ada sampai sekarang. Cuma sekarang koleksi sudah cukup banyak. Anak saya juga suka dan ada penerus juga," papar Midji.
Dari sekian banyak jenis batu, Midji mengaku Kalimaya dari Banten adalah favoritnya. "Idola saya Kalimaya. Bisa dari Birma, Banten. Kalau yang saya pakai ini dari Birma. Tapi saya lebih suka yang dari Banten," tuturnya.
Ia pun berbagi tips mengenali batu, apakah asli atau tiruan. "Batu yang asli warnanya lebih hidup dan batu bukan barang mati. Sekencang-kencangnya kita ikat, kalau asli dia akan kendor lagi," ujarnya.
Midji mengingatkan pecinta batu untuk tidak terjerumus ke dalam syirik. "Kalau percaya (magis) itu namanya syirik. Yang jelas, kalau batu itu tetap ciptaan Allah. Semua ciptaan Allah, pasti ada manfaatnya. Memang terkadang, ada juga bawaannya mau marah saja," kata Midji.
Momen kecintaan masyarakat terhadap batu ini juga yang membuat dirinya ingin menjadikan Pasar Dahlia, Sungai Jawi, Pontianak Barat, sebagai pusat penjualan akik. "Untuk itu, saya pusatkan di Pasar Dahlia. Satu dua bulan ini terwujud," imbuhnya.
Di akhir pembicaraan, Midji tak sungkan untuk melepas koleksi batu cincinnya. "Batu saya tidak bisa dinilai dengan uang. Kalau ada yang berminat dengan batu saya dan cocok, saya lepas," pungkasnya.
Kepala daerah lainnya yang punya batu adalah Bupati Kubu Raya, Rusman Ali. Berbeda dengan Midji yang sangat menyukai Kalimaya, Rusman lebih memilih Zamrud. "Saya hanya punya satu koleksi batu Zamrud. Pengikatnya berbahan perak. Alasan memilih Zamrud karena saya suka dengan warnanya yang hijau terang," kata Rusman Ali.
Ia pun tak pelit untuk berbagi informasi tentang harga Zamrud yang dikenakanya sehari-hari itu. Harga Zamrud tersebut sekitar Rp 17,5 juta. "Saya tidak seperti sebagian orang yang rela pergi ke beberapa daerah, hanya untuk memperoleh batu-batu yang bisa dipakai untuk dijadikan batu cincin," imbuhnya.