Young Ster
Ke LPIR Berkat Mengkudu dan Basaleh
- TIGA siswi SMPN 11 Kota Jambi melenggang ke tingkat nasional Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR)
Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - TIGA siswi SMPN 11 Kota Jambi melenggang ke tingkat nasional Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) setelah menjuarai ajang serupa di tingkat Provinsi Jambi. Mereka adalah Alya, Andini dan Natasyah. Alya dan Andini yang saat ini sama-sama duduk di bangku kelas IX berada dalam satu kelompok, sedangkan Natasyah yang duduk dikelas VIII maju perorangan. Apa yang membuat mereka berhasil sejauh ini?
Sebenarnya hanya hal sederhana yang membuat Alya dan Andini melenggang ke nasional, yakni akar mengkudu. Namun ide yang mereka temukan untuk mengolah tanaman yang banyak ditemukan di Jambi inilah yang dinilai unik oleh para dewan juri. Mengkudu yang sejauh ini hanya diambil daun dan buahnya saja oleh masyarakat, ternyata akar mengkudu bisa bermanfaat untuk pewarna alami batik.
“Akar mengkudu mampu memunculkan warna oranye alami yang dapat dipakai buat pewarna dasar batik yang alami. Kebanyakan kalau di Jambi kan pakai sintetis, kalau akar mengkudu alami,” papar Andini membuka obrolan.
Proses menemukan ide tersebut dikatakannya tidak mudah. Semua penelitian dari tiga bidang sempat dicoba, yakni bidang IPA, IPS dan teknologi, namun akhirnya labuhan jatuh pada akar mengkudu tersebut. “Kemarin tuh dapat ide gara-gara di kampung kami banyak pohon mengkudu,” sambung gadis kelahiran 31 Maret ini.
Alya yang menjadi partner Andini dalam lomba ini memaparkan proses pembuatan pewarna dasar batik ini. Dikatakan pemilik nama lengkap Alya Nurul Naomiyasza Z, sebelum digunakan sebagai pewarna, akar mengkudu harus dibersihkan terlebih dulu. Setelah dibersihkan, akar tersebut kemudian direbus sehingga memunculkan warna oranye pada air rebusan. Jika sudah begitu, maka tinggal mencari kain putih kemudian celupkan ke dalam rebusan akar mengkudu tersebut. Setelah itu keringkan. Ulangi langkah tersebut hingga tiga kali agar warna tidak pudar.
“Untuk sampel, ambil di dekat rumah. Tapi untuk contoh kan dibutuhin beberapa pohon, jadi harus keliling nyari,” kenangnya.
Selain Alya dan Andini, satu lagi siswi yang melaju sebagai finalis LPIR 2014 adalah Natasyah. Perempuan berjilbab ini tertarik mengangkat tradisi pengobatan masyarakat Suku Anak Dalam bernama basaleh. Dikatakan perempuan kelahiran 4 Agustus ini, basaleh memiliki keunikan tersendiri karena kental unsur magis. Karena terbentur waktu dan kondisi, ia tidak terjun langsung untuk meneliti, melainkan mencari banyak referensi sekaligus bertanya kepada budayawan Jambi, Junaidi T Noor.
Meski sempat merasa tidak percaya diri ketika mengikuti lomba, perempuan yang baru memulai belajar menulis karya sejak masuk SMP ini akhirnya berhasil masuk final di tingkat nasional, sama halnya dengan Alya dan Andini.