Pameran Batu
Wow, Batu Ini Bisa Bikin Air Lebih Jernih
Katanya motif teratai hitam Jambi terkenal bagus dibanding jenis teratai-teratai di daerah lainnya di Sumatera.
Penulis: Teguh Suprayitno | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI.COM - PADA Sabtu (3/1) malam, GOR Kota Baru Jambi terlihat terang benderang dengan puluhan lampu neon. Lampu-lampu tersebut menampakkan kecantikan seni dari batu-batu bumi yang tersimpan di balik lemari-lemari kaca. Kecantikan itu datang dari Jambi sampai Atjeh, mulai dari teratai hitam Sarolangun hingga hijaunya giok Aceh.
Jajaran batu-batu mulia itu praktis menarik perhatian warga Jambi yang kagum dengan kecantikannya. Tak jarang, masih dalam bentuk kepingan-kepingan kecil, hingga bongkahan yang beratnya berkilo-kilo. Daya tarik yang luar biasa itulah yang membuat mereka dihargai hingga belasan juta.
Ada yang menarik dari sebuah batu Browenite Serpentine Aswad Aceh. Batu ini hitam pekat, namun saat disorot cahaya warnanya berubah hijau. Uniknya lagi batu ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan penangkal racun.
“Ini biar saya teteskan betadine, ini bisa bersih diserap batu ini,” katanya. Setelah mencampur air dengan betadine, Ikrar pun langsung menyemplungkan potongan batu aswad. Cukup ajaib, batu itu menyerap warna merah betadine dan membuat air sedikit lebih jernih. Tak dinyana untuk meyakinkan, dia langsung meminum air betadine.
“Aman, tidak beracun. Inilah kelebihan batu aswad ini,” katanya menyakinkan warga yang berkerumun.
Keindahan warna kuning jeruk juga dipamerkan batu-batu dari pesisir Bengkulu, batu Raflesia. Semakin bening, akan semakin mahal harganya.
Kecantikan mereka tak lepas dari kegiatan komunitas Penggemar Perbatuan Permata Indonesia Jambi (KP3I Jambi) yang menggelar pameran batu Sumatera.
Ardi Harmaini ketua KP3I Jambi mengatakan ingin memperkenalkan keindahan batu Jambi di kancah Nasional. Itulah sebabnya ia menggelar pameran batu mulia di halaman GOR Kota Baru. Banyak jenis batu yang dimiliki Jambi, namun ada yang menjadi andalan sebab dianggap langka, teratai hitam. Batu asal Sarolangun yang menjadi khas Jambi.
Katanya motif teratai hitam Jambi terkenal bagus dibanding jenis teratai-teratai di daerah lainnya di Sumatera. Keindahannya pun dianugerahi juara empat tingat nasional.
“Dibanding teratai lainnya, teratai Jambi ini lebih bagus, dan itu diakui secara nasional,” katanya.
Ada puluhan jenis batu mulia bahkan mungkin ada ratusan yang dipamerkan. Mulai dari Teratai, Sungai Dareh, Lumut Aceh, Limau Manis, Badar, Giok Aceh, Aswad Aceh hingga Rafelisia, yang dipajang di 50 stand pameran.
Lewat pameran ini, kata Ardi, dia ingin mengetuk hati warga Jambi, bahwa Jambi punya kekayaan alam yang luar biasa, berupa batu mulia. Menurutnya batu-batu itu bisa mendongkrak ekonomi masyarakat Jambi.
“Coba bayangkan pendapatan tukang asah batu saja itu bisa sampai satu juta, ini kan membantu sekali buat ekonomi rakyat,” kata Ardi.
Dirinya mengaku sempat kecewa dengan orang Jambi yang menjual batu-batu Jambi ke Bandung. Dan parahnya batu itu dijual dengan murah, Rp 15 per kilo. Padahal menurutnya kekayaan Jambi itu mestinya bisa dinikmati oleh orang Jambi sendiri.
“Coba kita olah jadi cindera mata, baru kita jual sebagai suvenir, itulan lebih baik. Kalau dijual bahan mentah, lalu setelah diolah kita beli lagi, ini kan bodoh namanya kayak gitu,” katanya.