Media Famtrip 2014
Mengungkap Makna Motif Batik Durian Pecah
Edi Sunarto, suami Azmiah pemilik sanggar ini bilang motif batik Jambi mengandung pesan filosofis yang paradoks.
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Setidaknya ada sembilan destinasi wisata yang harus kami kunjungi. Melalui program bernama Media Famtrip 2014, 13-16 November lalu, kami harus berburu dengan waktu untuk menuntaskannya. Tribun dan sejumlah media nasional menjadi peserta kegiatan yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan Garuda Indonesia tersebut. Berikut catatan perjalanannya.
Dua buah drum yang dibelah difungsikan sebagai tungku tegak di atas perapian. Di dalamnya, air sedang menggelegak.
Seorang pria berada di sisi drum kemudian memasukkan kayu dan mengangkat sesuatu dari dalam drum. Ia tak sedang memasak air, melainkan itu proses produksi batik.
Aktivitas itu langsung menyita Tribun dan peserta Media Famtrip lainnya. Suasana itu kami dapati, Kamis (13/11) ketika rombongan singgah di sanggar batik Azmiah di Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang, Kota Jambi.
Sanggar batik adalah destinasi kedua kami setelah sebelumnya kami mengunjungi situs candi terluas, situs percandian Muarajambi.
Berbelanja batik dan menggali informasi langsung dari perajinnya adalah hal menarik. Tak heran, belasan wartawan yang turut serta begitu antusias.
Dan motif batik selalu menjadi hal yang tak luput untuk dikupas saat bicara kain bertulis atau bercap tersebut. Edi Sunarto, suami Azmiah pemilik sanggar ini bilang motif batik Jambi mengandung pesan filosofis yang paradoks.

Perajin batik sedang mengerjakan proses rangkaian membuat batik Jambi
Durian pecah, misalnya. Motif batik Jambi yang paling populer. Kata dia, motif tersebut bermakna mengingatkan manusia untuk berhati-hati.
Tak hanya itu, selendang melayu yang biasanya lekat dengan motif segi empat juga bermakna filosofis. "Segi empat itu seperti meja makan, maknanya berundinglah setelah makan jangan saat perut lapar," tuturnya.
Menurut dia, tak kurang ada 50 motif batik Jambi yang biasanya mengambil tema flora dan fauna.
Ia juga bilang ada pula motif yang mengingatkan agar pemimpin bersifat sebagai pemersatu dan mengingat bahwa semua harus kembali ke Tuhan.
Jakob Sumardjo dalam tulisannya, Kosmologi Batik Jambi menulis tentang motif batik durian pecah itu. Kata dia, buah durian atau duren dipilih untuk motif karena buah ini paradoks.
Siapapun tahu bahwa durian berkulit kasar, tajam. Namun sebaliknya, isinya halus, lunak, lembut. "Kulit dan isi memiliki kualitas yang oposisioner," tulisnya.
Itulah yang menjadi alasan, buah durian dalam motif ini justru harus dipecah atau dibuka, kalau tidak demikian tidak terlihat kualitas paradoksalnya.
Tak hanya itu, motif batik Jambi juga lekat dengan unsur arkais atau berhubungan dengan masa lalu atau berciri kuno. Misalnya, kapal sanggat.