Pertandingan Merangin vs Persikasa Ricuh
Pertandingan Liga Nusantara antara Merangin FC menghadapi Persikasa Sarolangun pada Rabu (13/8) di Stadion Tri Lomba Juang,
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pertandingan Liga Nusantara antara Merangin FC menghadapi Persikasa Sarolangun pada Rabu (13/8) di Stadion Tri Lomba Juang, Jambi diwarnai ketegangan. Beberapa pemain kedua tim terlibat baku hantam. Buntutnya, dua pemain, satu dari Merangin FC dan Persikasa diganjar hukuman kartu merah oleh wasit.
Kedua pemain tersebut adalah Rido (Merangin FC), dan Irawan dari Persikasa. "Pemain Persikasa melakukan pelanggaran dengan memegang pemain Merangin, wasit meniup peluit pelanggaran untuk Merangin, saat itu pemain Merangin menyikut pemain Persikasa sehingga terjadi keributan," kata Darmanto sebagai pengawas pertandingan.
Keributan terjadi jelang pertandingan babak ke dua berakhir. Pihak kepolisian bahkan harus turun ke lapangan untuk melerai para pemain yang terlibat perkelahian. Berhasil dilerai wasit pun menjatuhkan kartu merah kepada Rido dan Irawan. Setelah kedua pemain tersebut keluar, pertandingan kembali dilanjutkan.
Keributan kembali terjadi setelah beberapa menit pertandingan dilanjutkan. Kali ini pihak Merangin FC mengajukan protes ke wasit. Pasalnya pemainnya yakni Rido yang diganjar kartu merah dinilai berada pada posisi tidak bersalah. Bustami Manager Merangin FC menilai kinerja wasit perlu dievaluasi. Meski sempat terjadi protes, namun akhirnya pertandingan tetap dilanjutkan hingga peluit babak kedua berakhir dengan keunggulan 1-0 untuk Merangin FC. Gol tunggal dari Merangin diciptakan oleh Anton pada menit 53.
Kemenangan Merangin FC ini sesuai dengan yang target sang manajer, bahwa Merangin bertekad memenangkan pertandingan dan saat ini menjadi pemuncak klasemen Liga Nusantara wilayah Jambi.
Sementara itu pelatih Persikasa Bustra Risman tetap puas dengan permainan anak asuhnya. "Kalau hari ini sangat memuaskan, namun belum ada dewi fortuna," ujarnya. Bustra hanya menyayangkan sikap wasit yang dinilai terlalu lamban. "Wasit terlalu lambat akhirnya terjadi keributan, cuaca buruk, pola permainan pun hilang." katanya kepada Tribun.