Catatan Akhir Tahun
Konflik Masih Mendominasi
PERANG dan bencana alam masih mewarnai peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia internasional selama tahun 2013 ini.
Penulis: Nani Rachmaini | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - PERANG dan bencana alam masih mewarnai peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia internasional selama tahun 2013 ini.
Untuk bencana alam yang cukup memakan korban pada 2013 kemarin, adalah topan Haiyan yang melanda Pulau Tacloban, Filipina pada awal November 2013 lalu, dan sudah menewaskan lebih dari 3.500 orang.
Beberapa tokoh selebriti dunia kemudian menggalang dana bantuan bagi korban Haiyan, karena selain korban tewas, ribuan warga Tacloban lainnya menjadi pengungsi karena tempat tinggal yang sudah hancur.
Sementara perang, yaitu perang saudara terutama konflik sektarian terjadi di Mesir dengan tergulingnya Presiden Mesir yang didukung kelompok ikhwanul muslimin yaitu Mohammad Morsi. Morsi dilantik menjadi Presiden Mesir pada 30 Juni 2012, dan dikudeta dari kekuasannya oleh militer pada 3 Juli 2013, oleh Panglima Militer Mesir Abdel Fattah al Sisi.
Sebelumnya hal tersebut didahului oleh demonstrasi besar-besaran oleh rakyat Mesir yang tidak puas dengan pemerintahan Morsi.
Setelah itu konflik antar demonstran pendukung Morsi dan militer di Mesir telah menyebabkan terjadinya peristiwa bentrokan berdarah di Kairo, saat militer memberondong para demonstran dengan peluru, yang menewaskan ratusan demonstran.
Bahkan beberapa mahasiswa asal Indonesia di Mesir sempat meminta dievakuasi karena pergolakan berdarah di negara itu sudah amat mengkhawatirkan.
Mesir sempat ditetapkan dalam status darurat selama satu bulan, dan hingga kini demonstrasi dan bentrokan masih terjadi di ibukota Mesir.
Di Suriah, konflik yang telah menahun di negara itu membuat ratusan ribu rakyatnya telah menjadi pengungsi dan menimbulkan masalah lanjutan bagi negara-negara sekitar. Ada hampir 30 ribu pengungsi Suriah yang didata masuk ke Lebanon, belum lagi ke negara-negara lain.
Konflik bersenjata di Suriah sampai pembantaian yang dilakukan rezim Presiden Suriah Bashar Al-Assad terhadap rakyat Suriah, termasuk penggunaan senjata kimia untuk melakukan pembunuhan massal. Pada 11 Agustus 2013 lalu, diberitakan lebih dari seribu rakyat Suriah, banyak di antaranya anak-anak, tewas karena gas beracun.
Amerika Serikat kemudian berencana untuk melancarkan aksi militer terhadap Suriah, yang melibatkan tarik ulur dengan Cina dan Rusia yang menentang aksi militer tersebut. Aksi militer sampai sekarang tidak terjadi.
Pada awal tahun 2013 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri menyampaikan harapannya agar Presiden Assad bersedia mengundurkan diri agar konflik berdarah antara rezim dan kaum pemberontak di Suriah bisa berhenti. Sampai kini, selain kekerasan di negara itu, problem pengungsi Suriah masih terus berlanjut.
Konflik dan perang ini masih terjadi di wilayah Timur, selain konflik yg seakan sudah mendarah daging seperti antara Palestina dan Israel, juga perang dingin antara Iran dan barat, yang masih terkait persoalan nuklir Iran, meskipun dengan adanya Presiden Iran baru Hassan Rohani yang menggantikan Ahmadinejad sudah ada kemajuan berarti di mata barat, tetap saja perang urat syaraf di antara Iran dan negara Arab lain seperti Israel, dengan barat juga masih mewarnai pemberitaan soal Iran. Amerika serikat sendiri masih menjadi tokoh sentral di pusaran konflik di Timur Tengah ini.
Selain peristiwa bergantinya pucuk pimpinan di beberapa negara dunia, yang menyedot perhatian adalah naiknya Paus baru, yaitu yang sebelumnya adalah Kardinal dari Argentina, Jorge Bergoglio, terpilih menjadi Paus baru dan mengambil nama Paus Francis, pada pertengahan Mei 2013 lalu menggantikan Paus Benediktus XVI.
Lalu peristiwa yang cukup menyentak dan menyedihkan masyarakat dunia saat wafatnya pemimpin kharismatik Nelson Mandela, pada umur 95 tahun, pada awal Desember 2013 lalu karena sakit.
Satu berita yang cukup menghebohkan adalah peristiwa pengungkapan aksi-aksi intelijen dunia oleh Edward Snowden yang berkebangsaan Amerika Serikat. Perancis dan Jerman menjadi negara yang meradang karena terungkap bahwa Amerika Serikat juga melakukan penyadapan terhadap pemimpin negara di Eropa tersebut.
Indonesia juga disebutkan sebagai negara yang menjadi sasaran aksi penyadapan Amerika Serikat, namun berita itu kemudian tenggelam begitu saja. Yang kemudian menjadi panas adalah antara Australia dan Indonesia, karena Australia menyadap Presiden SBY, Wakil Presiden sebelumnya, Jusuf Kalla, sampai Ani Yudhoyono.
Ketegangan dan situasi tak nyaman antara dua negara ini, sampai berujung pada ditinjaunya kembali kerjasama antar dua negara, di antaranya dalam bidang ekonomi, dan hukum. Aksi sadap menyadap sejatinya adalah praktek yang dilakukan sejak lama, yang paling kuno adalah aksi sadap antara Rusia dan Amerika Serikat.