Sandiaga Uno Kunjungi Keluarga KPPS yang Meninggal, Tolak Seruan Visum yang Dilontarkan Prabowo

Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menanggapi soal adanya dari seruan dari Prabowo untuk dilakukan pemeriksaan visum

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Tribunnews/Jeprima
Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno saat memberikan pernyataan politik didepan masa pendukungnya pada acara mengungkap fakta - fakta kecurangan Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh BPN di Hotel Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2019). Pada pernyataan tersebut Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyatakan akan menolak hasil penghitungan suara Pemilu 2019 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

Sandiaga Uno Kunjungi Keluarga KPPS yang Meninggal, Tolak Seruan Visum yang Dilontarkan Prabowo

TRIBUNJAMBI.COM - Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menanggapi soal adanya dari seruan dari Prabowo untuk dilakukan pemeriksaan visum kepada petugas KPPS yang meninggal pada Pemilu 17 April kemarin.

Menurut Sandi, kejadian banyaknya petugas KPPS yang meninggal adalah sebuah musibah.

Pemeriksaan visum pun merupakan kewenangan dari keluarga masing-masing almarhum.

"Ini musibah dan ini kewenangan keluarga masing-masing, suatu hal yang pribadi sekali ranahnya, tentu ada di ahli-ahli medis. Tentunya semuanya pulang kepada keluarga masing-masing," kata Sandi, usai mengunjungi kediaman ketua KPPS almarhum Selamat Riadi (66), yang terletak di Jalan Eka Bakti Nomor 22 Kelurahan Ilir D-1 Sekip, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (17/5/2019).

Baca: Klasemen Sementara Liga 1 2019, Madura United Berada di Puncah, PSS Sleman Turun, Ini Jadwal Tanding

Baca: Bule Kenakan Hijab, Lihat Potret Cantik Istri Bayu Kumbara Saat Ramadhan 2019, Anaknya jadi Sorotan

Sandi menyampaikan, dari hasil kunjungannya di kediaman Selamat Riadi yang meninggal saat menjadi ketua KPPS 031 pada 17 April kemarin, penyebab almarhum meninggal karena faktor kelelahan.

"Almarhum ini pekerja keras, bukan hanya ketua KPPS, tapi juga ketua RT, ketua masjid juga, jadi memang bebannya berat, sehingga beliau kelelahan. Ini jadi catatan, dari putri beliau tadi juga minta agar ada evaluasi sehingga ke depan Pemilu berjalan lebih baik dan jadwalnya tidak membebani," ujar dia.

Dia mengatakan, pihak Ikan Dokter Indonesia (IDI) telah mengeluarkan surat edaran untuk dilakukan evaluasi medis dalam penanganan para petugas KPPS yang masih dirawat, agar jumlah yang meninggal tidak bertambah.

"Evaluasi ke depan agar lebih baik lagi, jatuh korban hampir 600. Pemilu ini paling banyak makan korban," ujar dia.

Sementara itu, Fitrianti Pratiwi yang merupakan anak dari Selamat Riadi, menolak adanya seruan untuk dilakukan visum terhadap petugas KPPS yang meninggal.

"Kami tahu ada berita itu dari televisi dan berita-berita. Kami tidak menginginkan itu (tes visum) kami sudah ikhlas," ungkap Fitri.

Menurut Fitri, ayahnya tersebut sempat mengalami koma di rumah sakit selama satu pekan.

Setelah itu, kondisi Selamat Riadi makin terus menurun. Tepat pada Selasa (23/4/2019) Selamat pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

"Awalnya kakinya lemas lalu dibawa pulang setelah itu masuk ke rumah sakit," ujar dia.

Sebelumnya Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto meminta pemeriksaan medis serta visum terhadap para petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), yang meninggal dunia usai bertugas pada Pemilu 2019.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved