VIDEO: Kerajinan Tangan Anyaman Muaro Bungo, Tembus Pasar Internasional, Ekspor Sapai Jepang & Swiss

VIDEO: Kerajinan Tangan Anyaman Muaro Bungo, Tembus Pasar Internasional, Ekspor Sapai Jepang & Swiss

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Deni Satria Budi

VIDEO: Kerajinan Tangan Anyaman Muaro Bungo, Tembus Pasar Internasional, Ekspor Sapai Jepang & Swiss

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Beginilah proses pembuatan anyaman di Dusun Teluk Pandak, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Siapa sangka, hasil anyaman orang-orang di dusun ini telah malang melintang ke berbagai penjuru dunia.

Untuk menyaksikan langsung proses pembuatannya, Tribunjambi.com langsung mendatangi sebuah pusat industri kerajinan masyarakat unit kerajinan anyam Pandak Mandiri.

Kebetulan, Anton, seorang pembina kerajinan anyam itu ada di lokasi. Usai saling mengenal, Tribunjambi.com bertanya apa ada proses anyam yang sedang berlangsung. Antusias, Anton langsung mengambil kunci sepeda motornya. Kata Anton, mau jemput bahan anyam.

Baca: Kok Cuma Baliho Saya yang Dirusak, Caleg di Sarolangun Lapor ke Bawaslu

Baca: Terbukti Tidak Memperkosa Melinda Zidemi, Namun 2 Pelaku Pembunuh Tetap Terancam Hukuman Mati

Baca: WANITA-Wanita Belia Sehari Layani 3 Tamu: Tarifnya Segini, Bisa Order Via Aplikasi, Begini Kisahnya

Beberapa jenak, dia datang membawa daun umbai (rumbai, KBBI). Bersama temannya, dia mulai mempraktikkan proses pembuatan anyaman khas Teluk Pandak itu.

Mula-mula, mereka menyusun daun-daun itu. Pelan-pelan, jari-jarinya menyisipkan daun yang satu ke daun yang lain. Semakin lama, semakin cepat.

Kata Anton, keterampilan menganyam itu sudah dimiliki sekitar 90 persen masyarakat Teluk Pandak.

"Kalau selama ini, untuk bikin anyaman, 90 persen masyarakat kita di sini bisa. Tapi selama ini, hanya untuk kebutuhan rumah," katanya sambil.

Baca: Jelang MotoGP Argentina 2019: Rossi Optimis Raih Kemenangan, Live Streaming di Trans7 di Sini

Baca: TERUNGKAP Kejadian Inses, Wanita Ini Ungkap Ayahnya adalah Bapak dari Ketiga Anaknya

Baca: Syahirsah Serahkan Langsung SK CPNS, Ini Pesan Bupati Batanghari

Tribun sempat melihat-lihat anyaman yang sedang mereka buat. Kebetulan, mereka sedang membuat tas. Kata Anton, untuk membuat tas, jumlah daun yang digunakan pun beragam, tergantung ukuran tas yang akan dibuat.

"Kalau tas itu dibuat dari 20 sampai 40 lembar daunnya, tergantung ukurannya sebesar apa," kata Anton.

Untuk pembuatan tikar, lain lagi. Biasanya butuh daun lebih banyak.

Dia berujar, dalam sehari, bisa menyelesaikan sekitar lima anyaman.

Mengenai asal bahan pembuatannya, Anton bilang, bahan-bahan itu bisa didapat di sekitar Teluk Pandak. Seperti umbai, kata Anton, akan mudah didapati ketika panas atau musim kemarau.

"Kalau umbai, waktu panas itu murah, karena itu hidup di rawa. Kalau musim penghujan itu susah, karena air dalam," terangnya.

Namun ternyata, mengambil umbai di rawa tidaklah mudah. Dia bilang, tumbuhan umbai ini kebanyakan hidup di rawa-rawa, yang banyak lintahnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved