Sejarah Indonesia
SUPERSEMAR: Ajudan Ungkap Kepedihan Soekarno yang Dikibuli Soeharto, Detik-detik Diusir Dari Istana
Sekitar Mei 1967, Soekarno tidak diperbolehkan masuk ke Istana sekembalinya dari berkeliling Jakarta. Dia menjadi tahanan rumah hingga wafat
"Dalam Supersemar, mana ada soal penahanan? Penahanan fisik, (dibatasi bertemu) keluarganya, penahanan rumah. Supersemar itu seharusnya melindungi keluarganya, melindungi ajarannya (Bung Karno),"
TRIBUNJAMBI.COM - Keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) merupakan momentum naiknya Soeharto ke tampuk tertinggi pemerintahan Indonesia.
Pasca Supersemar, Soeharto dengan tanpa rintangan berarti menduduki kursi Presiden menggantikan Soekarno.
Ajudan Soekarno menceritakan bagaimana pedihnya Soekarno saat mengetahui Supersemar digunakan Soeharto untuk menggoyahkan posisinya.
Bahkan Soekarno merasa dibohongi Soeharto.
Itulah hal yang disampaikan Sidarto Danusubroto, ajudan terakhir Bung Karno, pasca-terbitnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) tahun 1966.
"Bung Karno merasa dikibuli," kata Sidarto saat dijumpai Kompas.com di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu (6/3/2016) silam.
Setelah 53 tahun berlalu, Supersemar masih menyimpan banyak misteri.
Baca: Pak Harto Pernah Tolak Perintah Presiden Soekarno: Kalau Diikuti Ini Bisa Berbahaya
Baca: BREAKING NEWS - Pesawat Malaysia Airlines MH724 Mendarat Darurat di Bandara Sultan Thaha Jambi
Baca: Jadwal Final Piala AFF U22 2019 Timnas Indonesia Siap Hadapi Thailand Nantikan Peran Penting Osvaldo
Baca: Review Film: Rilis Teaser Poster Perempuan Tanah Jahanam, Bocoran Cerita Film Horor Baru Joko Anwar
Baca: GEGER, Setelah 20 Tahun, Pria Ini Baru Tahu Ketiga Anaknya Buah Perselingkuhan Istrinya
Setidaknya masih ada kontroversi dari sisi teks dalam Supersemar, proses mendapatkan surat itu, dan mengenai interpretasi perintah tersebut.
Menurut Sidarto, Soekarno menunjukkan sikap berbeda dengan serangkaian langkah yang diambil Soeharto setelah menerima Supersemar.
Sidarto tidak menyebut detail perubahan sikap Soekarno, tetapi ia menekankan bahwa Supersemar tidak seharusnya membuat Soeharto membatasi ruang gerak Sang Proklamator dan keluarganya.
"Dalam Supersemar, mana ada soal penahanan? Penahanan fisik, (dibatasi bertemu) keluarganya, penahanan rumah. Supersemar itu seharusnya melindungi keluarganya, melindungi ajarannya (Bung Karno)," kata Sidarto.
Pada 11 Maret 1966 pagi, Presiden Soekarno menggelar rapat kabinet di Istana Merdeka, Jakarta.

Pada saat bersamaan, ia dikejutkan dengan kehadiran demonstran yang mengepung Istana.
Demonstrasi itu dimotori kelompok mahasiswa yang mengusung Tritura (tiga tuntutan rakyat; bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga-harga).