Mengapa saat Imlek Selalu Hujan? Karena Kebetulan atau Ada 'Hal Lain', Ini Jawabannya
Apa sebenarnya yang menyebabkan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek selalu hujan? Hanya kebetulan atau ada 'hal lain' mempengaruhi, ini jawabannya ...
Apa sebenarnya yang menyebabkan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek selalu hujan? Hanya kebetulan atau ada 'hal lain' mempengaruhi, ini jawabannya ...
TRIBUNJAMBI.COM - Mengapa saat Imlek selalu hujan?
Pertanyaan itu biasanya muncul menjelang tahun baru Cina, seperti saat Imlek 2019.
Apakah itu kebetulan atau memang ada 'hal lain' yang menjadi penyebab?
Di Indonesia, menjelang atau saat perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada bulan Januari hingga Februari, biasanya juga memiliki curah hujan cukup tinggi.
Sebagian masyarakat Tionghoa memiliki keyakinan, apabila di saat tepat Tahun Baru Imlek hujan, maka akan ada keberuntungan ( hoki).
Apa sebenarnya yang menyebabkan menjelang dan saat Tahun Baru Imlek selalu hujan?
Secara ilmiah, periode Imlek terjadi antara Januari dan Februari, sehingga identik dan bersamaan dengan bulan-bulan puncak musim hujan.
Tahun Baru Imlek biasanya jatuh antara akhir Januari atau awal Februari.
Baca Juga:
Pendaftaran CPNS 2019 Ditunda dari Maret ke Juni, Rekrutmen P3K Tetap Februari, Ini Jadwalnya
Berkat Tommy, Soeharto Lolos dari Tragedi Berdarah Gerakan 30 September yang Bunuh 8 Jenderal TNI
Resep Kue Imlek - Resep Lapis Legit Kukus, Hanya Butuh Proses 45 Menit Lho!
Hasil Liga Italia - Inter Milan vs Bologna, Kekalahan Inter Milan 3 Kali Berturut-turut
Relief Misterius di Hotel Borobudur Jakarta, Ternyata Dulunya Markas Tentara Belanda
Seperti misalnya pada 2019, Tahun Baru Imlek 2570 jatuh pada 5 Februari 2019.
Itu terjadi karena penghitungan hari dalam Imlek merupakan gabungan berdasarkan fase bulan mengelilingi bumi dengan bumi mengelilingi matahari ( lunisolar ).
Itulah sebabnya hari dalam tahun Imlek tidak sama dengan kalender Masehi ataupun Hijriah, tidak tepat pada 1 Januari.
Apabila ditelusuri lagi sejarahnya, Imlek memang merupakan awal hari musim semi yang dirayakan oleh leluhur orang Tionghoa di Cina atau Tiongkok.
Dilansir dari Tribun Jateng, Ketua Yayasan Klenteng Kebun Jeruk TITD Low Lie Bio Indra Satya Hadinata mengungkapkan, nenek moyang orang Tionghoa bermatapencaharian petani yang mengandalkan penghidupan mereka dari bercocok tanam.