Aksi Marinir TNI AL yang Pernah Buat Singapura 'Meradang' Hingga Gugurnya Sosok Usman dan Harun

Aksi Marinir TNI AL yang Pernah Buat Singapura 'Meradang' Hingga Gugurnya Sosok Usman dan Harun

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Marinir TNI AL 

Aksi Marinir TNI AL yang Pernah Buat Singapura 'Meradang' Hingga Gugurnya Sosok Usman dan Harun

TRIBUNJAMBI.COM - Jauh sebelum nama Marinir TNI AL dikenal seperti sekarang karena kemampuan dan juga persenjataannya.

Dahulu, TNI AL pernah buat sebuah negara tetangga di Asia Tenggara sampai meradang.

Ulah itu dilakukan oleh dua sosok yang kini menjadi pahlawan di Indonesia karena aksinya.

Indonesia menyimpan banyak cerita bersejarah yang belum terungkap, dari seluruh pasukan khususnya.

Baca Juga:

Seperti Ini Tradisi Penyambutan Komandan Korps Marinir, Mayjen Suhartono Disambut Ribuan Prajurit

Sosok Denjaka Pemburu Perompak Somalia Itu Kini Menjadi Komandan Korps Marinir TNI AL

Profil Mayjen TNI Suhartono yang Resmi Jabat Komandan Korps Marinir TNI AL, Eks Komandan Paspampres

Bila TNI AD bangga dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang sudah mencatatkan cerita-cerita membanggakan bagi Indonesia.

Dari TNI AL, mereka punya Marinir yang sempat buat negara tetangga menjadi gempar.

Satu di antara kisah yang melegenda adalah kisah kepahlawanan Usman Janatin dan Harun Tohir yang dituduh meletakkan bom di Mac Donald House (MDH), kawasan Orchard Road, Singapura.

Bagi rakyat Indonesia, kedua prajurit ini adalah pahlawan karena mereka mati sahid dalam menjalankan tugas negara.

Selain melancarkan operasi penyusupan lewat perbatasan yang berada di darat, militer Indonesia juga melancarkan operasi rahasia lewat laut.

Tujuan operasi penyusupan yang dilakukan oleh Pasukan Katak (Kopaska) dan Marinir (KKO) itu berupa operasi intelijen, provokasi, dan sabotase.

Marinir TNI AL
Marinir TNI AL 

Satu misi operasi sabotase yang berhasil adalah yang dilakukan oleh Sersan Dua KKO Djanatin, Kopral Satu KKO Tohir, dan rekannya yang bertugas sebagai operator perahu, Gani bin Aroep.

Untuk mengamankan jalannya operasi itu, mereka membuat nama samaran sesuai dengan nama warga setempat.

Djanatin memakai nama samaran Usman bin Haji Muhammad Ali dan Tohir memakai nama Harun bin Said.

Sasaran utama misi rahasia itu adalah melakukan sabotase di pusat Kota Singapura dengan berbekal bahan peledak seberat 12,5 kg.

Target yang harus diledakkan adalah gedung McDonald House yang berada di pusat keramaian kota.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved