Kisah Korban Selamat dari Pembantaian di Papua, Bersembunyi di Atas Pohon Hingga Lari Tengah Malam

Seorang saksi mata, NN, mengungkapkan kisahnya berhasil selamat dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), seusai tragedi pembantaian pekerja

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
(Google Maps)
Distrik Yigi, Nduga, Papua, lokasi ditembaknya 31 pekerja oleh gerombolan Egianus Kogoya. 

Kisah Korban Selamat dari Pembantaian di Papua, Bersembunyi di Atas Pohon Hingga Lari Tengah Malam

TRIBUNJAMBI.COM - Seorang saksi mata, NN, mengungkapkan kisahnya berhasil selamat dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), seusai tragedi pembantaian pekerja infrastruktur PT Istaka Karya yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua, pada Minggu (2/12/2018).

NN mengaku dirinya menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi di atas pohon saat insiden penembakan terjadi.

Seperti dilansir TribunWow.com dari tayangan televisi Kabar Petang di TVOne, Sabtu (8/12/2018), NN menjelaskan saat itu dirinya mulai melarikan diri ke Wamena pukul 23.00 WIT. 

"Jam 11 malam mau lari ke Wamena, cuma kan di jalan ada yang bawa mayat, jadi ada yang maju, ada yang berhenti," ungkapnya.

NN yang saat itu sendiri terus berlari di tengah malam hingga pagi hari.

"Pikiran saya sudah ada di depan, jadi saya maju terus itu sendiri bawa senjata bawa amunisi, perlengkapan seperti TNI," lanjutnya.

Melihat matahari mulai terbit, NN semakin takut anggota KBB melihatnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk bersembunyi di atas pohon hingga pertolongan datang.

"Terus matahari sudah muncul kan, saya takut ada yang ngintip, ada yang ngejar saya naik ke pohon. Saya ngumpet di pohon sampai lama itu," terang NN.

NN menunggu pertolongan dan berada di atas pohon selama hampir dua jam.

NN juga mengungkapkan berhasil dievakuasi ke Wamena dua hari setelah penembakan terjadi.

Seperti yang diketahui, peristiwa penembakan yang menyerang para pekerja infrastruktur PT Istaka Karya, merupakan aksi dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dibawah komando Egianus Kogoya.

Seperti yang yang dilansir dari Wartakotalive.com, menurut Kapendam XVII Cendrawasih Muhammad Aidi menyebutkan, jumlah anggota kelompok Egianus sebanyak 50 orang.

Menurut Aidi, mereka memiliki senjata lengkap berstandar militer.

Pembangunan jalan Trans Papua menjadi pengusik mereka lantaran selama ini Pegunungan Tengah dikenal sebagai markas Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Dengan adanya jalan Trans Papua, mulailah daerah ini terbuka dari isolasi. Terbukanya jalan, mereka (kelompok OPM) merasa terusik. Sebab otomatis TNI dan Polisi bergerak mendekati arah mereka," ujar Muhammad Aidi.

(TribunWow.com/Atri Wahyu Mukti)

Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved