Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp 14.785 per Dollar AS

Menurut data Bloomberg, di pasar spot rupiah kembali menguat level Rp 14.785 per dollar AS atau menguat sebesar 0,12%.

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp 14.785 per Dollar AS
Kompas
Nilai tukar rupiah terhadap dolar 

TRIBUNJAMBI.COM - Mata uang Garuda kembali perkasa di hadapan the greenback.

Penguatan rupiah terjadi menjelang pengumuman data neraca dagang Oktober yang diperkirakan pasar defisit lagi.

Baca: Dapat Kucuran Dana Rp 6,4 Triliun, Merpati Airlines Batal Pailit, Ini Calon Penyelamatnya

Menurut data Bloomberg, di pasar spot rupiah kembali menguat level Rp 14.785 per dollar AS atau menguat sebesar 0,12%.

Penguatan lebih besar terjadi tadi pagi, terlihat dari acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang naik 0,94% ke level Rp 14.755 per dollar AS.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, penguatan yang cukup signifikan sempat terjadi pada rupiah hingga mencapai Rp 14.649 per dollar AS.

“Salah satunya karena kabar positif perang dagang antara Tiongkok dan AS yang mana Wakil Perdana Menteri Tiongkok Wakil Perdana Menteri China Liu He akan mengunjungi AS dalam waktu dekat untuk membicarakan trade war,” kata Ibrahim.

Baca: Peluru Sniper Berseliweran di Atas Kepala Prajurit Kopassus, Kompi C Dapat Musuh Terlatih di Saparua

Baca: Semifinal Liga 1 U-19, Persib Bandung vs Borneo FC, Ini Jadwal dan Harga Tiket

Kunjungan tersebut dinilai dapat meredakan ketegangan jelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G-20 akhir November mendatang.

Di sisi lain, menurutnya pergerakkan rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data Tiongkok yang terbilang cukup baik.

Pasalnya, tercatat data hasil industri dan investasi tumbuh lebih cepat dari ekspektasi, tetapi penjualan ritel mengalami perlambatan.

Menurut data yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) China, produksi industri naik 5,9%, data produksi manufaktur terkoreksi tipis dibanding bulan sebelumnya nmenjadi 5,7%, serta pertumbuhan investasi aset tetap China meningkat menjadi 5,7 % untuk periode Januari-Oktober.

Namun, Ibrahim tidak memungkiri bila rupiah berpotensi melemah kembali karena dipicu soal Brexit.

“Walaupun mulai mereda kemungkinan besar aman akan kembali hangat setelah mengadakan KTT Brexit pada 25 November yang membahas kesepakatan Inggris oleh Uni Eropa,” jelas Ibrahim.

Masih dari Eropa, potensi pelemahan juga datang dari isu Italia yang kembali menentang Komis Eropa untuk merevisi anggaran belanja negara 2019.

“Tekanan lain juga datang dari The Fed yang akan melakukan pertemuan, ECB juga akan melakukan pertemuan,” lanjut Ibrahim.

Sumber : Kontan

Editor: suci
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved