Prediksi IHSG

Asing Sudah Jual Rp 56,8 Triliun, Berikut Saham-saham yang Masih Bisa Dilirik

Dari awal tahun 2018 hingga hingga akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami penurunan 8,98%.

Asing Sudah Jual Rp 56,8 Triliun, Berikut Saham-saham yang Masih Bisa Dilirik
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Dari awal tahun 2018 hingga hingga akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami penurunan 8,98%. Meski penurunan hanya satu digit, investor asing mengakumulasi penjualan bersih atau net sell senilai Rp 56,84 triliun.

Angka ini lebih besar ketimbang net sell sepanjang tahun lalu Rp 40,21 triliun. Tapi porsi asing di pasar saham justru lebih besar yakni 47% dari akhir tahun lalu sebesar 36%.

Baca: Dituduh Membela ISIS, Prabowo Minta Pendukungnya Tidak Terprovokasi

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, aksi jual yang dilakukan oleh investor asing dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yaitu normalisasi kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), normalisasi neraca Federal Reserve dan kenaikan yield obligasi AS.

“Ekonomi AS sudah recovering dan hal itu ditandai dengam angka pengangguran sudah rendah dan inflasinya mulai naik. Sehingga memicu The Fed untuk lakukan normalisasi suku bunga acuan," kata Hans, Minggu (28/10).

Hans melanjutkan bahwa kenaikan suku bunga The Fed membuat yield obligasi AS jadi menarik sehingga banyak dana kembali ke AS. “Karena banyak dana kembali, maka dollar AS menguat sehingga ada risiko keluarnya aliran dana asing (capital outflow) di emerging market termasuk Indonesia,” imbuh Hans.

Selain itu, The Fed mulai menarik quantitative easing (QE) dan mulai melakukan normalisasi neraca. “Sebelum QE sekitar US$ 800 miliar dan sekarang menjadi US$ 4,8 triliun. Dan sekarang AS sudah menjual bond kurang lebih hampir US$ 600 miliar. Hal ini yang memicu banyak aliran dana asing keluar dari pasar modal kita dan pasar modal negara lain dan kembali ke AS,” ujarnya.

Baca: Imigrasi Cegah Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan ke Luar Negeri atas Permintaan KPK

Baca: Pertumbuhan Kredit 12,7 Persen September Dikhawatirkan HIPMI Hanya Bersifat Seasonal

Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa ada kenaikan yield obligasi AS menyusul defisit transaksi yang melebar akibat kebijakan pemotongan pajak AS. “Likuiditas yang tadi ramai di emerging market menjadi sepi lantaran dana mulai kembali ke AS sehingga terjadi pelemahan rupiah dan ada penjualan di pasar obligasi dan pasar saham Indonesia,” tambahnya.

Sementara dari dalam negeri, faktor current account Indonesia yang defisit dan cadangan devisa yang sedikit, membuat Indonesia membutuhkan asupan dana portofolio dari luar negeri. “Namun dana portofolio yang masuk tersebut, terhenti karena kebijakan AS tadi. Hal ini membuat rupiah kian melemah sehingga banyak investor asing melakukan balancing portofolio dan banyak aliran dana yang keluar dari pasar modal Indonesia,” tutur Hans.

Lebih lanjut, Hans memprediksi bahwa net sell asing masih akan berlanjut hingga akhir tahun mengingat masih ada sentimen eksternal dan akan ada pemilihan presiden. Namun Hans bilang, para pelaku pasar domestik tak perlu panik meski faktor global lebih dominan dibanding faktor dalam negeri.

Hans menambahkan, setelah sentimen global ini berlalu, investor asing akan kembali masuk ke pasar modal. Makanya, dia menyarankan lebih baik buy on weakness jika terjadi pelemahan. Sementara soal pergerakan IHSG hingga akhir tahun, ia memprediksi bahwa tidak ada kecenderungan untuk turun tapi akan bergerak sideways dengan volalitas yang tinggi dengan rentang support 5.623 dan resistance di level 6.117.

Baca: Inalum Pastikan Lunasi Biaya Divestasi Paling Lambat November 

Baca: Sejumlah Aset Milik Zainudin Hasan Disita KPK, dari  Tanah, Ruko hingga Harley Davidson

Baca: Bantah Proses Refund Dipersulit, Meikarta Jelaskan Proses Pengajuan Pengembalian Dana

Halaman
123
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved