Minta Didorong Rekannya Bila Ragu, Aksi LB Moerdani Nekat Terjun dari Pesawat Demi Rebut Medan
Kisah heroik prajurit Kopassus satu ini, patut diacungi jempol saat berada di medan perang.
TRIBUNJAMBI.COM - Kisah heroik prajurit Kopassus satu ini, patut diacungi jempol saat berada di medan perang.
Siapa yang tidak kenal dengan Benny Moerdani.
Sosok itu memang selalu siap ketika mendapat tugas dikirim ke daerah musuh.
Padahal, ia sendiri tidak tahu bisa kembali atau justru pulang tinggal nama.
Melansir dari buku Benny Moerdani Yang Belum Terungkap, pada 12 Maret 1958, Tentara Nasional Indonesia melakukan serangan udara dalam rangka merebut Riau daratan dari tangan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Dalam serangan tersebut, Benny Moerdani ditugaskan untuk memimpin Kompi A Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Tugas itu diberikan oleh Komandan Operasi Tegas Kolonel Kaharuddin Nasution.
Baca: Jadwal Baru Tahapan Seleksi CPNS 2018, Urutan Setelah Unggah Berkas di sscn.bkn.id
Baca: Sering Buat Tentara Asing Bergidik, Aksi Gigit Ular Berbisa dari Kopassus Ada Trik & Doa Khususnya
Baca: Update CPNS 2018 - Ukuran dan Format Dokumen di sscn.bkn.go.id, Pendaftaran Sisa 3 Hari
Benny yang berangkat menggunakan pesawat C-47 Dakota dari lapangan udara Kijang, Pulau Bintan itu membawa pasukan baret merah menuju Simpang Tiga, Pekanbaru.
Jaraknya sekitar 2000 kilometer di selatan Bintan.
Masalah pun muncul saat penerjunan hendak dilakukan. Benny Moerdani ternyata belum pernah berlatih terjun, padahal semua anak buahnya sudah dapat wing terjun di dada mereka.
"Semua anggota sudah latihan dan saya komandannya belum," kata Benny dalam buku Benny Moerdani Yang Belum Terungkap.

Sebenarnya ada pilihan lain untuk memberangkatkan pasukan kedua, yaitu Kompi B yang dipimpin oleh Letnan Satu Djajadiningrat.
Namun, Benny bersikeras. Ia beralasan, meski komandan Kompi B sudah pernah latihan terjun, tapi sebagian anggotanya belum.
Pada dasarnya, operasi ini membutuhkan latihan khusus, dari melompat, persiapan melompat, mengembangkan parasut, hingga mendarat.
Sayangnya, saat diadakan pelatihan tersebut di Batujajar, Bandung, Benny Moerdani sedang sakit.
Baca: Sabak Bhayangkara Adventure Offroad #2, Bupati Tanjabtim Adu Nyali Jadi Peserta
Baca: Nyesep Terbaring Lemas, Satu Orang Rimba Didiagnosa Kanker Mulut
Baca: Laporan Telah Diregistrasi, KPU Sarolangun akan Disidang
Akhirnya, Benny meminta anak buahnya, Soeweno untuk memberikan 'kuliah' singkat tentang cara terjun. Berkat hal itu, ia pun siap melompat.