Buaya di Jujuhan Sudah Makan Korban, Sampel Air Sungai Masuk Lab

Konflik manusia dengan buaya di Jujuhan beberapa waktu lalu membuat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)

Buaya di Jujuhan Sudah Makan Korban, Sampel Air Sungai Masuk Lab
tribunjambi/jaka hendra baittri
Pengambilan sampel air. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi lakukan uji laboratorium air sungai lokasi konflik buaya dan manusia di Jujuhan, Sabtu tanggal 8 September lalu. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Konflik manusia dengan buaya di Jujuhan beberapa waktu lalu membuat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) lakukan uji air sungai.

Udin Ikhwanuddin selaku Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Jambi membenarkan hal itu.

“Sampel (contoh) air yang sudah diambil akan kami bawa ke laboratorium Universitas Jambi atau kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi,” kata Udin, pada Selasa (25/9).

Pengambilan sample ini bertujuan untuk penelitian terkait air sungai. Sample air sungai diambil 3 titik. Mulai bagian ulu sungai, lokasi korban diserang buaya, dan di bagian ilir sungai dengan menggunakan botol kaca.

“Untuk mengetahui apakah air Sungai Aur Gading yang merupakan habitat buaya setempat sudah tercemar oleh limbah industri pabrik atau unsur kimia lain, seperti dari aktivitas PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin) yang ada di lokasi tersebut,” katanya.

Udin mengatakan hasilnya akan segera dilaporkan pada pimpinan BKSDA sebagai bahan pertimbangan.

“Hasilnya untuk pertimbangan kebijakan selanjutnya,” katanya.

Selain itu pihaknya pada tanggal 21 September lalu juga menyerahkan dana tali asih pada keluarga korban Muslim bin Kadir. Pemberian dana tali asih dilakukan di rumah korban di Dusun Aur Gading Keacmatan Jujuhan Ilir.

Udin mengatakan dana tali asih yang diserahkan ada 4,3 juta Rupiah. “Sebanyak 1,35 iuran sukarela pegawai lingkup BKSDA Jambi dan 3 juta dari Flora Fauna Indonesia (FFI),” katanya.

Selanjutnya Udin mengatakan pihaknya melakukan pemasangan papan imbauan. Dia mengatakan hal ini bertujuan agar warga lebih berhati-hati beraktivitas di sungai baik mandi atau yang lain. Apalagi di lubuk larangan ada habitat buayanya.

“Juga untuk mencegah jangan sampai ada warga kena serangan buaya lagi,” katanya.

Udin menambahkan mereka juga melakukan sosialisasi terkait penanganan konflik satwa liar khususnya buaya sebagai binatang purba dua alam.

Sebelumnya pada Sabtu (8/9) lalu Muslim (45) yang merupakan warga Desa Aur Gading Kecamatan Jujuhan berencana mandi di sungai Aur Gading tersebut. Namun malang tak dapat ditolak seekor buaya menyambarnya.

Beruntung awalnya Muslim berhasil lepas dan sempat dilarikan ke puskesmas. Namun nyawa Muslim tak tertolong.(bai)

Tags
Buaya
Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: nani
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved