Ini Titik-titik Lokasi Harimau Bonita Kerap Muncul, Zulkifli: Sabtu Minggu Biasa di Perkebunan Sawit

"Jika menghilang mulai dari Senin hingga Jumat, biasanya Sabtu dan Minggu kembali muncul di areal perkebunan sawit," kata Zulkifli.

Editor: Duanto AS
Harimau Bonita diburu petugas sejak menerkam dua warga Kabupaten Indragiri Hilir Riau hingga tewas pada Januari dan Maret silam. Bonita pertama kali menerkam karyawati perusahaan sawit Jumiati pada 3 Januari 2018. (dok. KompasTV) 

TRIBUNJAMBI.COM, PEKANBARU - Selama hampir lima hari terakhir, harimau sumatera yang menerkam dua orang warga di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau menghilang.

Harimau yang diberi nama Bonita itu saat ini memilih untuk bertahan di green belt (sabuk hijau) atau hutan perusahaan.

Ketua Tim Rescue Gabungan Penyelamat Harimau Sumatera, Zulkifli mengatakan, dalam lima hari terakhir belum menemukan harimau Bonita melintas di jalur yang biasa dilewati.

"Biasanya sering muncul di jalan poros dan beberapa blok di perkebunan sawit. Tiga hari lalu warga melihat Bonita menyeberang ke green belt," kata Zulkifli,Sabtu (24/3/2018).
Berdasarkan pengamatan Zulkifli, Bonita lebih sering di green belt karena diduga masih dipengaruhi suntik bius.

"Dugaan kami, dia (Bonita) masih ada rasa trauma," ujar Zulkifli.

Namun, lanjut dia, Bonita sebelumnya juga sering seperti itu, terutama setelah menerkam dua orang warga, Jumiati dan Yusri.

"Jika menghilang mulai dari Senin hingga Jumat, biasanya Sabtu dan Minggu kembali muncul di areal perkebunan sawit," kata Zulkifli.

Sehingga, tim gabungan cukup sulit mendapatkan momen untuk melakukan penembakan obat bius.

Zulkifli mengaku, pencarian Bonita dilakukan setiap hari, baik siang maupun malam di areal perkebunan kelapa sawit perusahaan.

Baca: VIDEO: Dinkes dan Sekda Kota Jambi Sidak Toko dan Mini Market, Cari Sardines. Ini Hasilnya

Baca: Perayaan Minggu Palma di Gereja Santo Gregorius Agung Jambi

Bahkan, di waktu subuh petugas juga mengintai di perlintasan Bonita.

"Kalau penyisiran ke hutan akan berisiko. Kami tidak nekat masuk ke green belt," kata dia.
Tim di lapangan saat ini terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, TNI, Polri dan WWF. "Kami terbagi tiga tim dalam melakukan penyisiran dan mengawasi aktivitas warga Desa Tanjung Simpang dan warga Dusun Sinar Danau," kata Zulkifli.

Dia mengatakan, saat ini segala upaya telah dilakukan untuk menangkap Bonita, mulai dari pemasangan perangkap box trap, mendatangkan pawang dan pembiusan.

Tim juga memasang umpan berupa kambing di perlintasan Bonita. Meski demikian, Bonita belum juga terlihat.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved