Tradisi Baca dan Tulis Lemah
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tidak kuatnya karakter kebudayaan masyarakat di Indonesia memberi akibat mudah masuknya pengaruh kebudayaan asing
Penulis: Duanto AS | Editor: ridwan
Laporan wartawan Tribun Jambi Duanto
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tidak kuatnya karakter kebudayaan masyarakat di Indonesia memberi akibat mudah masuknya pengaruh kebudayaan asing yang dibawa oleh media massa baik cetak maupun elektronik. Karakter budaya yang tidak kuat itu membuat suatu ketidaksadaran dalam masyarakat.
Histori kebudayaan Indonesia sedikit dibongkar dalam acara Seminar Kebudayaan Nasional, yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kota Jambi, di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi, Sabtu (10/12).
Materi yang dibawakan oleh budayawan, dan praktisi akademik dalam seminar menarik disimak. Berpangkal masalah dari kesejarahan budaya bangsa Indonesia yang lemah dalam tradisi membaca dan menulis, hanya bertutur. Dampaknya, secara kultural terlihat dalam jaman globalisasi seperti ini.
Misalnya, orang menggunakan handphone hanya karena sekadar modern saja, tapi tidak tahu bagaimana tujuan itu diciptakan. "Masyarakat jadi gagap karena tidak kuat karakternya," ujar Fathi Royyani, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ketika seminar.
Mengambil pembanding masyarakat di Eropa, merunut sejarah, terbaca jelas perkembangannya. Tahapan tradisi membaca, kemudian berkembang ke menulis (mencatatkan hasil penelitian), dan menonton (dari media massa).
Ketika dalam tahapan menonton, masyarakat Eropa tidak banyak terpengaruh. Kesadaran dan karakter membaca dan menulis mereka kuat. Untuk Indonesia, Fathi mengatakan masih mudah terpengaruh karena tidak mempunyai karakter awal budaya kuat.
"Pola berpikirnya modern dalam globalisasi gak ditangkap, hanya menggunakan benda-bendanya saja," lanjut peneliti kelahiran tahun 1975 ini.
Hal menarik tentang budaya nasional coba dirunut kesejarahannya, perihal pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan kelahiran Sumatera Utara sampai dengan pemikiran Goenawan Muhamad.
Sementara itu pemateri, budayawan Jambi Didin Sirojudin menyorot perihal pemerintah daerah dalam peran pemberdayaan budaya lokal. Hadir sebagai pemateri dalam acara itu juga, H Hilmi, MPdi, akademisi dari IAIN Sultan Thaha Saefuddin Jambi.
Ketua PMII Cabang Jambi, Ibnu Arafah mengatakan acara tersebut digelar juga dalam satu rangkaian dengan konferensi cabang (konfercab) ke-29 PMII Cabang Kota Jambi.