Berita Nasional
Pengamat Intelijen Ungkap Pola Psyops Digital Massif yang Serang Prabowo
psyops digital merupakan ebuah metode perang urat syaraf yang dirancang khusus untuk memanipulasi dan mengendalikan persepsi publik secara luas.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Serangan Medsos ke Presiden Prabowo
- Pengamat intelijen sebut serangan medsos ke Presiden Prabowo berpola psyops digital.
- Narasi negatif diproduksi secara masif demi mendelegitimasikan posisi Presiden.
- Operasi siber dinilai non-organik karena butuh biaya mahal dan tim konten khusus.
- Amir Hamzah ingatkan bahaya perang hibrida yang dapat mengancam stabilitas negara.
- Pemerintah didesak perkuat deteksi dini guna memetakan aktor dan pendana isu.
TRIBUNJAMBI.COM – Lanskap media sosial Indonesia kini tengah diguncang oleh fenomena tidak lazim berupa gelombang serangan digital yang mengarah langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, membongkar serangan yang membanjiri platform seperti Facebook, X, YouTube, Instagram, hingga Threads tersebut bukanlah dinamika politik biasa, melainkan sebuah operasi siber yang terorganisasi, masif, dan sistematis.
Dalam kacamata intelijen modern, Amir menegaskan perang opini di ruang digital saat ini telah bermutasi jauh melampaui debat kusir antarpendukung politik.
Kemunculan isu negatif yang seragam dalam rentang waktu berdekatan, lalu diamplifikasi oleh akun anonim, pembuat meme, video pendek, hingga influencer politik, menjadi bukti kuat adanya mobilisasi terstruktur.
Menurut Amir, fenomena ini memenuhi karakteristik dari psychological operation atau psyops digital.
Sebuah metode perang urat syaraf yang dirancang khusus untuk memanipulasi dan mengendalikan persepsi publik secara luas.
“Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,” ungkap Amir Hamzah dalam pernyataannya, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Teknik klasik ini sengaja membanjiri ruang publik dengan sentimen negatif setiap hari agar masyarakat mengalami kelelahan psikologis.
Baca juga: Misi Jokowi Keliling Indonesia Disebut Demi Prabowo: Serap Aspirasi Demi Bangsa
Baca juga: Lansia Ditemukan Meninggal di Pondok Kebun Tanjab Barat Jambi, Polisi Selidiki
"Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi," tambahnya.
Jika dibiarkan, opini publik yang terdistorsi akan menciptakan kesan semu bahwa negara tengah berada dalam kondisi gagal.
Ancaman Perang Hibrida dan Keterlibatan Elite
Amir menggarisbawahi bahwa pola yang menyerang Presiden Prabowo memiliki kemiripan historis dengan operasi digital di sejumlah negara luar yang sengaja diguncang lewat perang opini sebelum runtuh secara politik.
Di era kontemporer, penaklukan sebuah negara tidak lagi wajib menggunakan moncong meriam militer konvensional, melainkan cukup dengan mengobrak-abrik sektor ekonomi dan mengendalikan algoritma informasi.
“Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan hanya militer, tetapi juga media sosial. Kalau opini publik berhasil dikendalikan, maka stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,” urai Amir.
Mengingat pergerakan isu ini berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan di lintas platform, Amir meyakini ada sokongan dana fantastis serta keterlibatan aktor elite berpengalaman di belakang layar.
Skenario ini melibatkan pengelolaan tren, tim produksi konten profesional, hingga rekayasa algoritma yang mahal.
"Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung masif dan konsisten, sulit disebut organik," tegasnya.
Ia menyiratkan fenomena ini berkelindan erat dengan persaingan kepentingan di tingkat elite kekuasaan.
Desakan Deteksi Dini Berbasis Algoritma
Menutup analisisnya, Amir Hamzah memberikan alarm keras kepada pemerintah agar tidak memandang sebelah mata perang narasi di media sosial.
Sejarah dunia modern mencatat banyak keruntuhan politik bermula dari riak-riak kecil di dunia maya yang gagal diantisipasi sejak dini.
Baca juga: Bertemu Macron, Prabowo Puji Prancis Pelopor Solusi Dua Negara Palestina
Baca juga: Tragedi Sijenjang Jambi: Ibu Tewas Dihantam Mesin Air oleh Anak Diduga ODGJ
“Dalam dunia intelijen, kegagalan membaca eskalasi kerusuhan adalah persoalan serius," cetus Amir mengingatkan.
Oleh sebab itu, ia mendorong lembaga intelijen negara untuk segera memperkuat sistem deteksi dini digital.
Pemerintah dituntut cerdas dalam memetakan jaringan penyebaran isu, melacak aktor intelektual penggeraknya, hingga memutus rantai aliran dananya.
“Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Karena hari ini serangan terhadap negara bisa dimulai dari algoritma,” pungkasnya.
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News dan Media Sosial Facebook, Instagram, dan Threads, serta ikuti saluran Tribunjambi.com di WhatsApp
Baca juga: Bandingkan dengan Ferdy Sambo, Roy Suryo Sebut Kasus Ijazah Jokowi Tidak Relevan
Baca juga: Gempur Narkoba, Polres Bengkalis Sikat Pengedar di Pangkalan Jambi
Baca juga: Pemprov Jambi Kembali Buka Beasiswa Pro Jambi Cerdas, Ini Jadwal Lengkapnya
Baca juga: Harga Emas Naik Turun, Tia Pilih Menabung Emas Lewat BRImo Tiap Gajian
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pengamat Nilai Serangan Melalui Medsos ke Prabowo Dilakukan Secara Terstruktur
Prabowo Subianto
Presiden Prabowo
pengamat
intelijen
serangan
media sosial
TikTok
Tribunjambi.com
Multiangle
| Misi Jokowi Keliling Indonesia Disebut Demi Prabowo: Serap Aspirasi Demi Bangsa |
|
|---|
| Bertemu Macron, Prabowo Puji Prancis Pelopor Solusi Dua Negara Palestina |
|
|---|
| Projo Pastikan Jokowi Tak Sedang Susun Kekuatan Politik untuk Tantang Prabowo |
|
|---|
| Menkeu Purbaya Ngaku Tak Tahu Anggaran Sapi Kurban Prabowo Rp100 Miliar, Lempar ke Mensesneg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260530-Presiden-Prabowo-Subianto.jpg)