Kamis, 21 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Penipuan Travel Umrah di Jambi

Sudah Cuti 31 Hari, Guru di Jambi Gagal Berangkat Umrah

Endang, seorang guru di Jambi, mengaku menyetor Rp116 juta untuk biaya umrah tiga anggota keluarganya, namun gagal berangkat pada Februari 2026.

Tayang:
Penulis: Rifani Halim | Editor: Heri Prihartono
Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri
PENIPUAN TRAVEL UMRAH - Sebanyak 256 orang jadi korban dugaan penipuan biro travel umrah PT Nur Risqon Hasana (NRH) di Kota Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Endang (38), seorang guru di Jambi, tak pernah menyangka niatnya beribadah umrah bersama keluarga justru berujung kekecewaan. Ia menjadi satu dari ratusan jemaah yang diduga menjadi korban travel umrah Upro.

Endang mengaku pertama kali mengenal travel tersebut dari brosur yang dibagikan melalui grup WhatsApp.

“Awal saya kenal travel ini dari brosur yang dikirim kawan ke grup WhatsApp,” ujarnya saat diwawancara Tribun Jambi, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, harga paket yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding travel lain sehingga membuat dirinya tertarik.

“Karena agak murah dibanding yang lain. Kami bandingkan biasanya tidak segitu, jadi tertarik,” katanya.

Setelah melihat brosur tersebut, suaminya langsung mendatangi kegiatan manasik untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai travel tersebut.

Endang mengatakan dirinya mendaftar umrah sejak Agustus 2025 dan dijanjikan berangkat pada Februari 2026.

“Terakhir kami dapat informasi berangkat tanggal 14 Februari 2026,” ujarnya.

Untuk tiga orang anggota keluarganya, Endang mengaku telah menyetor uang sebesar Rp116 juta. Selain biaya umrah, ia juga telah mengurus berbagai persiapan seperti paspor, vaksin, hingga roaming internasional.

“Kami sudah lengkap semua. Paspor, vaksin, roaming, semuanya sudah siap,” katanya.

Ia mengaku sempat mencari informasi sebelum mendaftar. Namun karena yang menawarkan merupakan teman sendiri, rasa curiga perlahan hilang.

“Awalnya memang cari informasi karena murah. Tapi yang menawarkan juga teman, jadi percaya,” ujarnya.

Semakin mendekati jadwal keberangkatan, Endang mengaku dirinya dan jemaah lain makin yakin akan berangkat karena pihak travel sudah membentuk grup bus dan menunjuk tour leader.

“Sudah dibentuk bus satu, bus dua, bus tiga. Ada tour leader juga. Jadi kami makin yakin,” katanya.

Rombongan dijadwalkan berangkat dari Jambi menuju Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke luar negeri.

Namun sehari sebelum keberangkatan, pihak travel mengabarkan bahwa visa seluruh jemaah belum selesai.

“Itulah sehari sebelum keberangkatan mereka bilang visa belum semuanya jadi,” ujarnya.

Padahal, menurut Endang, visa miliknya sendiri sudah terbit.

“Visa saya sudah jadi. Jadi kami merasa aneh,” katanya.

Ia mengatakan sebagian jemaah dari daerah bahkan sudah tiba di Jambi untuk bersiap berangkat. Ada pula jemaah dari luar daerah yang sudah menunggu di Jakarta.

“Yang dari kabupaten sudah standby di Jambi. Bahkan ada yang dari Kalimantan sudah terbang ke Jakarta,” ujarnya.

Endang sendiri mengaku koper sudah disiapkan dan keluarga besar sudah bersiap mengantar ke bandara.

“Koper sudah siap. Orang tua keluarga juga sudah siap mau ngantar ke bandara,” katanya.

Sebagai seorang guru di sekolah wilayah Kabupaten Muaro Jambi, Endang bahkan sudah mengajukan cuti kerja selama 37 hari dan telah disetujui.

“Kami sudah mengajukan cuti, sudah di-ACC 37 hari,” ujarnya.

Saat keberangkatan gagal, suasana di antara para jemaah disebut penuh kebingungan dan kepanikan. Mereka saling menelepon hingga akhirnya berkumpul untuk meminta penjelasan kepada pihak travel.

“Kami mendatangi perwakilan travel, tanya sampai kapan ditunda-tunda,” katanya.

Menurut Endang, pihak travel awalnya berjanji akan bertanggung jawab, namun hingga kini belum ada kepastian pengembalian uang.

“Awalnya mereka seperti mau bertanggung jawab, tapi sampai sekarang tidak ada,” ujarnya.

Kasus tersebut kini telah diproses kepolisian. Endang mengaku dirinya sudah dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik.

Ia menyebut pihak travel sempat mengaku turut menjadi korban penipuan oleh pihak provider.

“Mereka bilang ditipu provider. Padahal sebenarnya kami yang kena tipu karena uang kami yang keluar,” katanya.

Kini, Endang berharap seluruh uang jemaah dapat dikembalikan.

“Harapan kami sebagai jemaah pasti uang dikembalikan. Karena memang kami tidak jadi berangkat,” ujarnya.

Baca juga: Kemenhaj Jambi: Paket Umrah di Bawah Rp20 Juta Dipastikan Tidak Masuk Akal

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved