Human Interest Story
Cerita Titik Balik Eks Napi Terorisme yang Pernah Kerja di Lingkungan Densus 88
Pernah bekerja sebagai pekerja harian lepas di Densus 88 tidak membuat M Rofiq lepas dari paparan paham radikalisme.
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: Mareza Sutan AJ
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pernah bekerja sebagai pekerja harian lepas di Densus 88 tidak membuat M Rofiq lepas dari paparan paham radikalisme.
Dia ditangkap, dipenjara. Ia mengalami titik bali. Kini ia telah dibebaskan, hadir dalam dalam versi yang lebih baik.
Rofiq merupakan mantan narapidana kasus terorisme.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya mulai terpapar paham radikalisme sejak 2017.
Padahal sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai PHL di Densus 88 Antiteror, satuan khusus Polri yang menangani tindak pidana terorisme.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Rofiq mengingatkan bahwa radikalisme dapat menyasar siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Tidak menutup kemungkinan siapa saja bisa terpapar paham ini. Saya mondok di Wali Barokah Karawang tahun 2005,” katanya, saat berbicara di podium acara sosialisasi bertema Teguhkan Komitmen TOLAK IREK (Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme), di Lantai 3 Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Senin (2/2/2026).
Rofiq juga sejalan dengan pendapat Staf Ahli II Gubernur Jambi yang menyebut radikalisme memiliki sifat tertutup serta tidak menerima perbedaan.
Ia menjelaskan, individu yang telah terpapar paham tersebut cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
“Tidak mau berbaur dengan masyarakat itu salah satunya.
"Juga ekstremisme yang menjadikan dia untuk memaksa orang lain untuk seperti dia, sehingga jika tidak sama, dia akan melakukan kekerasan,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa paham radikalisme memiliki sejumlah ciri khas.
Salah satunya adalah keyakinan bahwa hukum Tuhan (Allah) harus menjadi satu-satunya hukum yang berlaku dan wajib diterapkan.
Hukum tersebut dianggap tidak boleh ditawar. Siapa pun yang tidak menjalankan hukum Allah kemudian dicap sebagai kafir.
“Ini salah satu paham radikalisme yang pernah pernah saya alami.
"Bapak-bapak semua ini yang di sini itu semua dikafirkan dengan pemahaman ini. Karena apa? Bapak-bapak ini mengajarkan paham-paham di luar Islam,” tuturnya.
“Nah, itu pemahaman yang keliru yang saya pahami dulu. Alhamdulillah, saya banyak belajar, banyak baca,” lanjutnya.
Rofiq mengatakan, perubahan pemahamannya terjadi setelah ia banyak belajar dan membaca.
Saat ini, ia mengaku telah kembali menerima dan mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia kini meyakini bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).
Menurutnya, dalam salah satu hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan kecintaan terhadap negeri Makkah.
“Jadi ketika Rasulullah diperintahkan hijrah ke Madinah, Rasulullah melihat ke belakang ke arah Makkah. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat. Sesungguhnya yang mewajibkan kamu atas hukum Allah Al-Qur'an itu akan mengembalikan engkau kepada negeri asalmu yaitu Makkah, dan terjadilah Fathul Makkah,” terangnya.
“Artinya, cinta tanah air itu adalah sebagian dari iman. Bahwasanya Imam Fathul Bari itu pernah menjelaskan, ketika Rasulullah pulang dari Makkah, dia kemudian melihat Kota Madinah, beliau mempercepat perjalanan ini,” sambungnya.
Ia menambahkan, anggapan bahwa ajaran cinta tanah air merupakan kesesatan (As-Sofiah) adalah keliru.
Menurutnya, As-Sofiah justru merupakan kitab yang memuat fanatisme dan berada dalam jaringan terorisme.
“Mereka merasa paling benar, jika tidak sama dengan mereka maka kafir semuanya, bahkan semua mayoritas musyrik mayoritas muslim-muslim di Indonesia itu dihukumi musyrik sama mereka semua, karena berpaham demokrasi segala macamnya,” ujarnya.
Atas dasar itu, Rofiq berharap dirinya menjadi warga Jambi terakhir yang pernah terpapar paham radikalisme.
“Saya berharap Jambi damai, tenteram, aman. Kita selamat, beribadah lancar dan semuanya dibarokahkan di negeri ini,” harapnya.
(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Kapan Dana Program 100 Juta per RT di Kota Jambi Cair?
Baca juga: Pemuda Pancasila Tuntut Setop Batu Bara setelah Ketua MPC Merangin Jadi Korban
Baca juga: Dua Polisi dari 4 Tersangka Rudapaksa Perempuan di Jambi Segera Disidang Etik
| Tahanan di Muaro Jambi Suapi Kue Ulang Tahun untuk Anak meski Tangan Terborgol |
|
|---|
| Cerita Sopir Travel Jambi Lima Kali Sepekan Bermalam di SPBU demi Dapat Solar |
|
|---|
| Pelari Bandung Taklukkan Puncak Kerinci Tiga Jam di Ajang Kerinci 100 |
|
|---|
| 5 Fakta Unik Ibu-Ibu Balap Motor Viral pada Momen Idulfitri di Merangin |
|
|---|
| Masjid Magat Sari: dari Sejarah hingga Tradisi Nasi Minyak saat Ramadan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/M-Rofiq-2.jpg)