Sabtu, 25 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Batang Hari

Status Siaga Darurat Karhutla di Batang Hari Diperpanjang hingga 31 Oktober 2025

Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Batang Hari yang sebelumnya berakhir pada 30 September 2025

Penulis: Khusnul Khotimah | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Khusnul Khotimah
Sekretaris BPBD Batang Hari, Syamral Lubis 

TRIBUNJAMBI.COM, BATANG HARI – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Batang Hari yang sebelumnya berakhir pada 30 September 2025, resmi diperpanjang hingga 31 Oktober 2025.

Keputusan ini diambil berdasarkan hasil rapat Satgas Karhutla Provinsi Jambi, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi terkini di lapangan.

Sekretaris BPBD Batang Hari, Syamral Lubis, mengatakan perpanjangan status siaga darurat ini dilakukan menyesuaikan kondisi yang masih berpotensi terjadinya Karhutla di wilayah tersebut.

“Kami selalu mengacu pada kondisi yang ada. Setelah keluarnya peraturan bupati tentang perpanjangan status siaga darurat Karhutla di Kabupaten Batang Hari, diputuskan untuk memperpanjang hingga 31 Oktober 2025,” ujarnya, Senin (20/10/2025).

Baca juga: Klaim Terbaru KKB Papua: TNI Kalah Perang Gerilya, Panglima TPNPB-OPM Tewas Terkena Serangan Drone

Meskipun curah hujan mulai meningkat di beberapa wilayah, Syamral menegaskan bahwa titik panas atau hotspot masih tetap terdeteksi.

“Walaupun sekarang sudah mulai sering turun hujan, namun titik hotspot masih ada. Karena itu, status siaga ini perlu diteruskan,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa BPBD Batang Hari terus bekerja sama dengan tim gabungan untuk melakukan mitigasi dan pemantauan di daerah rawan Karhutla.

“Kami terus mengkampanyekan agar Batang Hari bisa menjadi daerah dengan zero hotspot. Meskipun hasilnya belum maksimal, kami tetap berkomitmen menanggulangi Karhutla,” jelasnya.

Syamral juga mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

“Alhamdulillah, kesadaran masyarakat semakin baik. Namun masih ada beberapa pihak yang belum tersentuh sosialisasi, terutama di daerah terpencil,” tambahnya.

Adapun titik hotspot yang masih sering muncul berada di Kecamatan Muara Bulian, khususnya wilayah Senami.

Menurutnya, penyebab hotspot tidak hanya berasal dari pembakaran lahan, tetapi juga bisa dipicu oleh pantulan sinar matahari dari benda seperti seng, kaca, atau cerobong pabrik.

“Penting bagi kita semua memahami bahwa titik hotspot tidak selalu berasal dari pembakaran lahan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat Batang Hari agar lebih peduli terhadap lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Batang Hari untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Selain membahayakan kesehatan, hal itu juga melanggar hukum,” tegasnya.

Baca juga: Sampah di Tebo Jambi Berserak, Petugas Kebersihan Banyak Tak Masuk

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved