Mengenal Keris Siginjei

Keris Siginjei, Pusaka Kebesaran Kerajaan Jambi

Keris Siginjei menjadi benda pusaka kebesaran kerajaan Jambi yang riwayatnya sangat berhubungan dengan riwayat Orang Kayo Hitam

Editor: Suang Sitanggang
ELFRIDE SIAGIAN
Duplikat keris siginjei di Museum Negeri Jambi, Selasa (18/7) 

Laporan Elfride Siagian

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Masyarakat masa kini berpandangan bahwa keris tak lebih dari hasil kerajinan rakyat yang dikerjakan secara tradisonal dan mengandung unsur-unsur seni. Senjata tikam ini dipasarkan sebagaimana memasarkan hasil-hasil kerajinan rakyat lainnya.

Nilai sebuah keris banyak ditentukan oleh kehalusan teknik pembuatan dan keindahan ukiran. Nilai ekonomisnya akan semakin tinggi apabila usia pembutan Keris semakin tua. Saat ini, keris juga dijadikan barang antik dan pelengkap pakaian adat.

Tak dapat dipukiri, benda-budaya fungsinya akan terus berubah dan berkembang seirama dengan perkembangan dan perubahan masyarakatnya. Fungsi keris dalam masyarakat Indonesia ikut berubah sejajar dengan perubahan dan perkembangan masyarakat dari masa ke masa.

Keris dahulu dianggap sebagai benda keramat, berkembang menjadi benda pusaka yang dipuja sebagai warisan nenek moyang dan perlambangan dari kekeluargaan. Seterusnya berkembang menjadi barang mewah yang akhirnya menjadi hasil karya seni.

Dikutip dari buku berjudul Keris Siginjei karya M Nasirm, sebelum abad ke-20, masyarakat mempercayai keris memiliki nilai rohaniah yang utama, dalam arti kekuatan gaib yang terkandung di dalamnya. Keris hanya mampu dibuat oleh seorang guru atau lebih dikenal dengan sebutan Empu, yang memiliki sejumlah kesaktian khusus.

Menurut ahli Antropologi, di dalam buku tersebut, sejata tikam atau Keris adalah benda yang khusus terdapat di wilayah Asia Tenggara, dengan berbagai variasi dalam bentuknya dan dengan nama berbeda-beda. Rencong (di Aceh), Badil (di Sulawesi Selatan), Kujang (di Jawa Barat/Sunda), dan Keris (di Jawa, Bali, sebagian Kalimantan, Sumatera Tengah dan Selatan, termasuk Jambi).

Keris Siginjei menjadi benda pusaka kebesaran kerajaan Jambi yang riwayatnya sangat berhubungan dengan riwayat Orang Kayo Hitam. Pemegang terakhir keris ini adalah Sultan Thaha yang berjuang menentang penjajahan Belanda samapai akhir hayatnya (1904).

Kemudian diserahkan kepada Raden Mattahir disaat-saat menjelang akhir khayatnya. Tak bertahan lama, Raden Mattahir kemudian tertembak mati di dusun Muara Jambi pada 1907, Belanda merebut Keris Siginjei dan membawanya ke Belanda.

Masgia SH selaku Kepala Bimbingan dan Publikasi Museum Siginjai mengatakan, keris Siginjei ini menjadi benda bersejarah bagi rakyat Jambi. Latar belakang dan sejarah pembuatan Keris ini membuat rakyat Jambi kini bisa merasakan kebebasan.

Keris Siginjei menjadi pembuka tindakan tegas untuk memutus rantai antara cengkraman Kerjaan Mataram terhadap Kerajaan Melayu tempat Orang Kayo Hitam berasal. Orang Kayo Hitam menjadi sosok yang memperjuangkan berdirinya Kerajaan Jambi. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved