Berita Internasional

Kehebatan Sniper Brigade Al Qassam yang Lukai Pasukan Khusus Israel

Serangan terarah dari kelompok perlawanan Palestina kembali menyasar pasukan Israel di Jalur Gaza. 

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
AP Photo
SNIPER. Kamis malam (10/7/2025), militer Israel mengonfirmasi bahwa tiga anggotanya terluka akibat tembakan sniper dalam operasi darat di Gaza tengah. 

TRIBUNJAMBI.COM - Serangan terarah dari kelompok perlawanan Palestina kembali menyasar pasukan Israel di Jalur Gaza

Kamis malam (10/7/2025), militer Israel mengonfirmasi bahwa tiga anggotanya terluka akibat tembakan sniper dalam operasi darat di Gaza tengah.

Insiden itu menimpa prajurit dari Brigade ke-7 Divisi ke-99, yang sedang bertugas dalam operasi militer di wilayah konflik tersebut. 

Dua di antaranya mengalami luka serius dan satu lainnya mengalami luka sedang.

Informasi dari media Israel Walla menyebutkan bahwa Hamas, melalui sayap militernya Brigade Al Qassam, berhasil mengumpulkan data intelijen akurat mengenai posisi pasukan Israel.

 Informasi ini disebut menjadi dasar serangkaian serangan terarah, termasuk sniper, rudal antitank, hingga ledakan dari alat peledak rakitan.

“Hamas melakukan pendekatan gerilya secara terorganisir dengan sistem komando dari pusat operasi di Kota Gaza hingga ke garis depan,” ujar sumber keamanan Israel yang dikutip Walla. Dalam sistem ini, mereka juga dilaporkan menunjuk komandan lapangan baru untuk mengatur serangan.

Brigade Al Qassam dalam beberapa pekan terakhir intens melancarkan serangan terhadap konvoi militer Israel, termasuk penyergapan di Beit Hanoun, Gaza utara.

Serangan tersebut menewaskan empat personel dari Batalyon Netzah Yehuda, yang dikenal sebagai unit yang banyak diisi tentara ultraortodoks Yahudi, serta sejumlah personel dari Brigade Utara.

Meski berada di bawah tekanan militer, termasuk serangan intens terhadap tokoh Hamas seperti Izz al-Din al-Haddad, Al Qassam tetap mampu melancarkan serangan yang terkoordinasi.

Seorang perwira cadangan senior di IDF mengungkapkan bahwa kondisi cuaca ekstrem di Gaza  gelombang panas dan kelembapan tinggi  turut memengaruhi efektivitas tempur pasukan Israel.

"Kondisi ini melelahkan para tentara kami dan justru memberi celah bagi militan untuk menyerang,” ungkapnya.

Serangkaian peristiwa ini menandai bahwa konflik di Gaza tak hanya berlangsung dalam skala besar, tetapi juga diwarnai taktik kecil nan mematikan yang mengandalkan intelijen, gerilya, dan kecepatan manuver  memperlihatkan bahwa perang ini terus berkembang ke tahap yang lebih kompleks dan membahayakan.

(Tribunjambi/Tribunnews.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved