15 Tersangka di Kasus Pabrik Uang Palsu di UIN Makassar, Kepala Perpustakaan hingga ASN Terlibat
Sejumlah fakta terkait temuan pabrik uang palsu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Pabrik uang palsu di UIN Makassar
TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah fakta terkait temuan pabrik uang palsu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Dari lingkungan kampus UIN Makassar polisi menyita Rp446,7 juta uang palsu.
Pabrik uang palsu di perpustakaan kampus ini diduga melibatkan kepala perpustakaan UIN Makassar.
Berikut sejumlah faktanya:
15 Tersangka
Pihak kepolisian telah menetapkan 15 tersangka terkait pabrik uan palsu di UIN Makassar.
Kapolres Gowa AKBP Reonald TS Simanjuntak menyebut tak menutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah seiring pengembangan penyelidikan.
Baca juga: Mabes Polri Cekal Warga Kerinci Jambi Bernama Agus Pergi ke Luar Negeri, Pembunuhan Sadis
Baca juga: Jokowi Dipecat PDIP, Edi Purwanto: Sudah Sesuai AD/ART
"Saat ini, kami sudah mengamankan 15 tersangka. Sembilan sudah kami lakukan penahanan, lima dalam perjalanan dari Mamuju, satu perjalanan dari Wajo," kata Reonald di Mapolres Gowa, Senin (16/12/2024).
Dia menyebut pabrik uang palsu tersebut mulai terendus pada awal Desember 2024.
Petugas kemudian menggelar penyelidikan hingga menemukan pabrik uang palsu di perpustakaan kampus.
"Kita libatkan Labfor, BI (Bank Indonesia), BRI, BNI juga kita libatkan, kemudian kita libatkan dan terbantu dari rektor universitas (UIN Alauddin) di Gowa. Kenapa? Karena ternyata alat dan barang bukti yang kami dapatkan di dalam kampus salah satu universitas di Gowa," kata Reonald.
Kepala Perpustakaan hingga ASN Diduga Terlibat
Salah satu orang yang ditangkap polisi sehubungan kasus uang palsu tersebut adalah Kepala Perpustakaan UIN Makassar Andi Ibrahim.
Andi ditangkap bersama seorang staf lain terkait peredaran uang palsu.
Penangkapan pria bergelar doktor itu dikonfirmasi Wakil Rektor III UIN Makassar Muhammad Khalifah Mustamin.
Andi diketahui berkuliah di UIN Makassar untuk mendapatkan gelar S1 dan S3 sebelum menjadi kepala perpustakaan universitas tersebut.
Mustamin menyebut pihaknya menyerahkan proses hukum terhadap Andi kepada pihak kepolisian.
Pihak kampus juga disebutnya akan memberi sanksi tegas.
"Saya pikir polisi punya mekanisme sendiri terkait dengan itu, yang bisa saya sampaikan terkait dengan itu pasti di internal rektorat akan mengambil tindakan tegas terkait dengan si oknum. Itu yang bisa dilakukan oleh pihak kampus," kata Mustamin, dikutip Tribun Timur.
Baca juga: Banyak yang Ingin Inter Milan Terpeleset, tapi tidak Semudah Itu
Selain pejabat kampus, kasus ini juga dilaporkan melibatkan seorang ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
ASN berinisial TA disebut ditangkap polisi terkait pabrik uang palsu.
Pj. Sekda Provinsi Sulawesi Barat Amujib menyatakan pihaknya akan memberi sanksi tegas jika TA terbukti bersalah di pengadilan.
"Akan diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku jika ASN Sulbar tersebut telah terbukti di pengadilan terlibat dalam kasus pencetakan dan mengedarkan upal (uang palsu) yang saat ini ditangani kepolisian," katanya.
Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis dituntut mundur buntut penemuan pabrik uang palsu di perpustakaan kampus.
Rektor dituntut mundur oleh puluhan mahasiswa yang berdemonstrasi di rektorat Kampus 2 UIN Alauddin Makassar, Senin (16/12).
Para mahasiswa menilai rektor lalai memimpin universitas sehingga terdapat pabrik uang palsu yang beroperasi di lingkungan kampus.
"Kami prihatin dan ini sebagai tanggung jawab moral kami sebagai mahasiswa UIN Alauddin Makassar atas berbagai permasalahan di kampus ini, terutama terkait dengan uang palsu," kata koordinator demonstrasi, Muhammad Riski.
"Informasi yang kami dapat menyebutkan bahwa barang buktinya lebih dari dua miliar rupiah dan ini diproduksi tepat di belakang gedung rektorat."
Kasus pabrik uang palsu yang ditemukan di lingkungan UIN Alauddin Makassar menyita perhatian berbagai kalangan belakangan ini.
Selain karena beroperasi di dalam lembaga pendidikan, sindikat juga disebut memproduksi uang palsu dengan mesin canggih.
Uang palsu produksi sindikat ini disinyalir sulit terdeteksi sinar-X.
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: Mabes Polri Cekal Warga Kerinci Jambi Bernama Agus Pergi ke Luar Negeri, Pembunuhan Sadis
Baca juga: Marco van Basten: AC Milan Bisa Terbantu jika Punya Lebih Banyak Pemain Italia
Baca juga: Ada Kabar Diminati Juventus, Agen Joshua Zirkzee Bahas Dulu dengan Manchester United
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.