Berita Merangin
Sejarah Singkat Perkampungan Tradisional 'Rumah Tuo' Rantau Panjang
Kompleks "Rumah Tuo" secara tradisional masih memelihara bentuk bangunan tua yang telah dibangun selama 300 sampai 400 tahun yang lalu.
Penulis: FRENGKY WIDARTA | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kompleks "Rumah Tuo" secara tradisional masih memelihara bentuk bangunan tua yang telah dibangun selama 300 sampai 400 tahun yang lalu.
Meskipun beberapa kali telah dilakukan perbaikan, bentuk dan ornamennya masih menunjukkan nilai-nilai budaya tradisional warisan masa lalu.
Kompleks bangunan "Rumah Tuo" telah ditemukan pada 1300 setelah masehi dan sampai sekarang bentuk dan ornamen dari rumah tersebut masih banyak menyimpan nilai-nilai budaya sejarah situs lokal yang sangat kental di Provinsi Jambi.
Warisan situs lokal budaya dari bangunan "Rumah Tuo" ini merupakan monumen hidup, karena masih ditempati oleh warga lokal yang masih menjaga tradisi adat mereka.
Keturunan yang tinggal saat ini adalah penerus generasi ke-14 dari "Rumah Tuo".
Masyarakat adat lokal biasanya disebut "Orang Batin Lamo" adalah ras adat yang berasal dari keturunan orang Batin Lamo.
Luas area dari perkampungan Rumah Tuo ini kurang lebih 4 hektar dengan pembagian sekitar 40 sampai 70 rumah di dalamnya.
Masyarakat lokal di sekitar Rumah Tuo juga ikut memelihara dan peduli pada tradisi adat lokal yang bisa dirasakan dan disaksikan sampai saat ini, seperti acara "Bantaian Adat" penyembelihan hewan kerbau, Pencak Silat, dan "Budaya Baselang" Biduk Gedang Beselang Be Angkut Padi.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Tabir Merangin, Jambi, Mukhtar YS menjelaskan, sejarah asal mula keberadaan dari masyarakat "Rantau Panjang" bermula dari sebuah kerajaan kecil "Kerajaan Koto Rayo" yang terletak sekitar 15 kilometer arah hilir tepatnya sekarang di Desa Rantau Limau Manis di Kecamatan Tabir Ilir Merangin, Jambi.
Waktu itu, "Kerajaan Sriwijaya" telah berhasil menaklukkan "Kerajaan Jambi" pada abad ke-14. Selanjutnya, "Kerajaan Sriwijaya" berencana akan melakukan penyerangan ke "Kerajaan Koto Rayo".
Namun, informasi perencanaan penyerangan tersebut sudah diketahui oleh warga "Kerajaan Koto Rayo".
Sebelum "Kerajaan Sriwijaya" datang untuk menyerang, warga "Kerajaan Koto Rayo" bersepakat untuk menghindari serangan itu dengan pindah (berpencar) untuk membentuk perkampungan baru.
"Warga yang ada di 'Kerajaan Koto Rayo' ada yang diajak ke hulu, ke arah Pagaruyung, sebagian ada yang ke Sarolangun, Batanghari, Bungo, dan ada sebagian yang masih menelusuri Sungai Tabir ini ke hulu. Sebanyak 60 keluarga itulah asal usul orang Rantau Panjang," kata Ketua LAM Kecamatan Tabir Mukhtar YS saat diwawancarai oleh Tribun Jambi di kediamannya.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Tabir, Mukhtar YS, menambahkan dari 60 keluarga itu, masing-masing membentuk perkampungan baru, di antaranya Kampung Lubuk Tebing Tinggi, Dusun Tuo, Talang Genteng, Mudik Bukit, dan Bukit Senang Ati.
"Karena jarak antar satu kampung (dusun) dengan kampung lainnya berjauhan, tentunya berisiko terhadap adanya kehadiran binatang buas. Akhirnya, pada waktu itu, warga antar kampung bersepakat untuk bersatu kembali dengan berpindah pada satu tempat. Ada 19 buah rumah sebanyak 2 baris saling berhadapan itu dibangun pada tahun 1300. Di antara 19 buah rumah itu, ada rumah yang tertua milik Rio Depati, nama kerajaannya 'Kerajaan Ujung Tanjung Muaro Semayo' yang berasal dari 'Kerajaan Koto Rayo', itu awalnya," ungkap Mukhtar YS.
"Dari 19 KK ini mereka mulai berpikir bahwa harus ada seorang pemimpin untuk mengatur kehidupan mereka agar rukun. Maka terpilihlah satu pemimpin dari warga di perkampungan itu. Sebutan gelar untuk pemimpin itu, gelarnya 'Datuk Rio Depati'," tambah Mukhtar YS.
Dengan terpilihnya satu pemimpin, mereka akhirnya berinisiatif bersama-sama untuk membangun rumah untuk pemimpinnya dan juga membangun rumah-rumah lainnya untuk warganya.
"Sebenarnya, 'Rumah Tuo' itu dalam penamaannya bukan 'Rumah Tuo' tapi 'Perkampungan Rumah Tuo'. Sebenarnya itu semua rumah, Rumah Tuo semua sebutannya. Dua RT di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Tabir itu 'Rumah Tuo' semua, bukan satu saja Rumah Tuonya, tapi ada satu rumah itu agak besar ukurannya itu adalah rumah pemimpinnya, atau milik Rio Depatinya. Untuk sebutan nama pemimpinnya waktu itu 'Puyang Bungkuk', nah itulah sejarah adanya 'Perkampungan Rumah Tuo' itu," jelasnya kepada Tribun Jambi.
Baca juga: Update Bursa Transfer AS Roma : Tawaran untuk Artem Dovbyk Meluncur, Matias Soulè Mendarat
Baca juga: Lirik dan Chord Lagu LDR Langgeng Dayaning Rasa - Denny Caknan: Senajan Mung Suaramu Ngademke Ati
Baca juga: Komentar Raphael Varane Setelah Resmi Bergabung dengan Como 1907 dari Manchester United
| Sampah Meluap di Pasar Rantau Panjang, Pemkab Merangin Turun Tangan |
|
|---|
| Merangin Peringkat Dua MBG di Jambi, Sekda Minta Kualitas dan Transparansi Dijaga |
|
|---|
| Sekda Zulhifni Pimpin Rapat Evaluasi MBG, Ingatkan Kualitas dan Kebersihan |
|
|---|
| WFH Berlaku di Merangin, Bupati Ingatkan ASN Tetap Produktif dan Diawasi |
|
|---|
| Pemkab Merangin Gelar Apel dan Halal Bihalal, Bupati Tekankan Kedisiplinan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Perkampungan-Tradisional-Rumah-Tuo-Rantau-Panjang.jpg)