BMKG Jambi Prediksi El Nino Bakal Menguat Setelah Juni
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM,JAMBI - BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha-Jambi memprakirakan fenomena El Nino bakal meningkat setelah Juni.
"Sekarang ini (el nino) masih di tahap lemah, tetapi nanti akan menguat setelah bulan Juni 2023," terang Randy, prakirawan BMKG Jambi, Selasa (13/6/2023).
Randy menjelaskan El Nino merupakan fase hangat suhu muka laut di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.
Pemanasan suhu muka laut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Secara geografis, Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik.
Pertukaran massa udara serta interaksi atmosfer dan laut yang terjadi di wilayah tersebut berpengaruh terhadap iklim Indonesia.
"El Nino ini membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering," tutur Randy.
Dia mengatakan fenomena El Nino yang terjadi tahun ini, diperkirakan dapat memicu kekeringan lebih parah di Indonesia, Australia dan sebagian Asia Selatan.
Selain itu, peningkatan curah hujan diprediksi terjadi pada bagian selatan Amerika Selatan, bagian selatan Amerika Serikat, Afrika dan Asia Tengah.
Namun untuk, awal musim kemarau ini, wilayah Provinsi Jambi masih berpotensi hujan.
"Jambi masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di seluruh wilayah kota dan kabupaten di wilayah Provinsi Jambi yang umumnya berpotensi terjadi pada siang atau sore dan dini hari," pungkasnya.
Picu Kekeringan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut El Nino memicu kekeringan.
Dengan minimnya curah hujan yang terjadi juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api.
"Langkah-langkah strategis perlu dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Utamanya sektor-sektor yang sangat terdampak seperti sektor pertanian, terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Situasi saat ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada gagal panen yang dapat berujung pada krisis pangan," ujar Dwikorita di Jakarta, Rabu (7/6).
Dampak El Niño di Jambi adalah sebagai berikut:
1. Kekeringan
Salah satu dampak utama El Niño adalah kekeringan yang dapat mempengaruhi ketersediaan air untuk pertanian, pemukiman, dan kebutuhan sehari-hari.
Curah hujan yang rendah atau tidak teratur selama periode El Niño dapat menyebabkan penurunan pasokan air, mengeringnya sumber-sumber air seperti sungai dan danau, serta menurunkan level air tanah.
2. Kebakaran Hutan dan Lahan
El Niño juga berkaitan dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi yang kering dan cuaca yang panas dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Jambi.
3. Penurunan Produksi Pertanian
El Niño dapat berdampak pada sektor pertanian di Jambi. Kekeringan yang terkait dengan El Niño dapat mengurangi pasokan air irigasi, menghambat pertumbuhan tanaman, dan mengurangi hasil panen. Tanaman padi, karet, kelapa sawit, dan komoditas pertanian lainnya dapat terpengaruh oleh kondisi kekeringan yang disebabkan oleh El Niño.
4. Perubahan Pola Cuaca
Selama periode El Niño, pola cuaca di Jambi dapat menjadi tidak stabil dan tidak terduga.
Hal ini dapat berarti curah hujan yang rendah, intensitas hujan yang tinggi dalam periode singkat, atau fluktuasi suhu yang tidak biasa. Perubahan ini dapat mempengaruhi kegiatan pertanian, transportasi, dan kesehatan masyarakat.
Kepala Daerah Diminta Antisipasi
Ketua DPRD Provinsi Jambi, Edi Purwanto kembali mengingatkan kepada seluruh daerah di Provinsi Jambi untuk mengantisipasi kondisi perubahan cuaca. Diprediksi pada Juni ini mulai memasuki musim panas.
Sejumlah kemungkinan harus diperhatikan dan dipersiapkan sehingga dampak cuaca panas ini tidak terlalu berdampak pada masyarakat.
Kekeringan kata Edi Purwanto satu di antara dampak musim panas yang bakal terjadi di Provinsi Jambi. Masyarakat umum hingga sisi pertanian kata Edi Purwanto harus dicarikan formulasi oleh pemerintah daerah sehingga dampak kekeringan ini bisa ditekan.
“Kita minta masing-masing pemerintah daerah mempersiapkan ini, karena memang wilayah provinsi jambi juga masuk pada provinsi yang dimungkinkan mengalami kekeringan akibat cuaca panas ini,” ungkapnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia terkena musim kemarau atau kemarau panjang mulai Maret 2023. Siklus El Nino 2023 sendiri mulai di Mei dan diprediksi akan mampir ke Indonesia Agustus 2023.
“Sektor pertanian ini tentu akan berdampak dengan kondisi kekeringan, dan kita minta ada formulasi-formulasi yang dibuat dan dijalankan, jangan sampai dampak ke petani ini meluas, karena tentu akan berpengaruh pada sektor lain,” ungkapnya.
“Kita minta ini dipikirkan dari sekarang, sehingga antisipasi yang dilakukan ini bisa berjalan dengan efektif,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/kemarau-ekstrem-di-india.jpg)