Lebih Ramah Lingkungan, Rumah Baca Kakita Kenalkan Teknik Eco Print

Tribunjambi.com/Samsul Bahri
Rumah Baca Kakita berkolaborasi dengan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru kenalkan teknik eco print. 

 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-Batik Eco Print merupakan kegiatan membatik dengan memanfaatkan sejumlah bahan alam sebagai pewarna alami dan tidak menggunakan bahan kimia.

Eco Print menjadi konsep ramah lingkungan yang tidak menimbulkan pencemaran. Konsep ini terus dikenalkan ke masyarakat satu di antaranya dilakukan oleh pihak Rumah Baca Kakita berkolaborasi dengan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru.

Kegiatan sosialisasi yang dirangkum dalam pelatihan Eco Print yang dilaksanakan pada Minggu (11/6) pagi di Taman Angrek Sri Soedewi, Telanaipura ini ternyata menyenangkan, tidak hanya orang dewasa, peserta yang lebih dari 40 orang tersebut juga banyak anak-anak. Antusias anak-anak yang ingin belajar Eco Print ini disambut hangat oleh sejumlah fasilitator yang siap membantu dalam berkarya Eco Print.

Kegiatan pelatihan Eco Print ini sangat antusias dilakukan oleh seluruh peserta, karena rerata peserta yang ikut dalam kegiatan pelatihan ini merupakan pengalaman pertama. Rasa penasaran dalam mengaplikasikan daun ke sebuah kain hingga menghasilkan warna menjadikan peserta antusias.

Leli, salah satu peserta yang juga merupakan mahasiswa di Jambi ini menyebutkan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya dalam melakukan Eco Print. Rasa penasaran akan proses Eco Print ini membuatnya semangat untuk mendaftar dan mengikuti pelatihan dengan durasi lebih kurang dua jam lamanya ini.

“Karena penasaran sebetulnya Eco Print itu apa, kemudian seperti apa melakukan Eco Print itu karena inikan pakai bahan-bahan alami ya untuk warnanya, penasaran aja gimana bisa muncul motif daun-daun gitu, makanya ikut pelatihan ini,”sebutnya.

Leli bersama teman lainnya juga merasa mendapat ilmu banyak dari kegiatan pelatihan Eco Print bahkan Leli mengaku setelah mengetahui dan melakukan Eco Print berencana untuk memberikan informasi tentang Eco Print kepada orang sekitar dan lingkungan sekitarnya. Apalagi menurutnya, literasi semacam ini sangat berguna, terutama untuk lingkungan.

“Bisa jadi bisnis juga kan sebetulnya, tapi lebih pentingnya kita dapat literasi dan bisa nanti kita sampaikan ke banyak orang yang belum mengenal Eco Print,” ungkapnya.

Disisi lain, dalam proses Eco Print ini dikenal dengan proses “penokok”. Penokok itu merupakan satu proses dimana kain yang dibawahnya di alasi plastik dan kemudian di atas kain diletakkan daun dan dilanjutkan dengan melapisi plastik, kemudian sedikit demi sedikit bagian daun di “tokok” dengan menggunakan palu kayu berukuran kecil.

“Jadi daunnya ditumbuk yang bertujuan agar klorofil di daun itu keluar dan menyerap ke kain, sehingga muncul warna pada kain itu. Trik menokoknya juga harus perlahan jangan terlalu keras, sehingga rata dan tiap sisi daunnya terjiplak dengan bagus,”terang salah satu fasilitator.

Informasi yang disampaikan juga bahwa kita harus mengetahui terkait daun yang akan kita gunakan, karena terkadang ada daun yang berwarna hijau namun setelah di tokok warna yang muncul bukan lah warna hijau, seperti halnya daun Jati. Pada daun jati, secara kita melihat warna daun adalah hijau, namun setelah di tokok warna yang muncul adalah berwarna merah.

Sementara itu, saat tribunjambi.com mencoba untuk melakukan Eco Print memang cukup mudah, tinggal kreativitas kita untuk menempatkan posisi daun pada kain. Namun untuk kendala sendiri sebetulnya ada pada kesabaran, karena saat menokok memang membutuhkan waktu cukup lama dan konsentrasi agar posisi daun tidak berubah, karena jika berubah maka “Jiplakan” daun tidak begitu rapi dan sempurna.

Masyithah, pendiri Rumah Baca Kakita menerangkan bahwa pelatihan Eco Print ini dilakukan untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan terkait Eco Print dimana ini berbeda dengan membatik. Pada Eco Print bahan pewarna yang digunakan merupakan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Kemudian kegiatan pertama ini kita mengaplikasikan Eco Print ke Tote Bag. Ini untuk menanamkan konsep gaya hidup berkelanjutan atau diet plastik. Kemudian kegiatan ini kita lakukan tepat di akhir semester adik-adik sekolah baru selesai ujian dan ini jadi refreshing adik-adik,” ungkapnya.

Ita nama panggilannya menyebut bahwa dirinya tidak menduga akan ada banyak yang berminat dalam mengikuti pelatihan Eco Print ini, menurutnya dalam membuka pelatihan Eco Print dirinya hanya menargetkan sekitar 30 orang, namun ternyata pada hari terakhir ada lebih dari 50 orang yang mendaftar.

“Antusianya banyak sekali, sampai kemarin kita batasi kuota dan hari ini ada 50 orang yang ikut. Memang nanti kita berencana ada sesi-sesi lainnya dan bahkan bakal berkolaborasi dengan sekolah-sekolah dan membuka kelas di area terbuka,” pungkasnya.