Misteri Kematian Bripka Arfan Saragih
Bripka Arfan Saragih Tewas Misterius, Ini Permintaan Hotman Paris Pada Kapolri
Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea meminta kapolri dan kadiv propam turun tangan menangani misteri kematian Bripka Arfan Saragih
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea merasa ada yang janggal pada kasus tewasnya anggota Satlantas Polres Samosir, Bripka Arfan Saragih.
Dia menduga, kematian Bripka Arfan berkaitannya dengan masalah yang mencuat belakangan ini, soal penggelapan pajak kendaraan di Samsat Pangururan, Kabupaten Samosir.
Hotman mencium aroma adanya kepentingan sesama oknum polisi dalam skandal pajak kendaraan, di kepolisian tempat korban bekerja.
Apalagi berdasarkan rilis kepolisian, bahwa korban meninggal akibat minum racun sianida, menurut Hotman Paris hal itu sangat aneh.
"Kok tiba-tiba bisa oknum polisi minum racun sianida. Ini aneh bin ajaib," ujarnya, dalam pernyataan yang dia unggah di akun instagram yang sudah terverifikasi, Jumat (24/3/2023).
Bripka Arfan ditemukan tewas 6 Februari 2023 di pinggir jalan, di Kecamatan Pangururan, Sumatera Utara.
Hasil autopsi dokter forensik menyimpulkan penyebab kematian Bripka Arfan akibat mati lemas usai masuk sianida ke tubuh, yang disertai pendarahan di kepala akibat trauma benda tumpul.
Arfan meninggalkan seorang istri bernama Jeni Simorangkir dan dua orang anak yang masih kecil.
Melihat keanehan ini, Hotman Paris mengimbau pada Kapolri dan Kadiv Propam supaya pengungkapan misteri kematian Bripka Arfan Saragih di Pulau Samosir itu dipindahkan pemeriksaannya.
"Kiranya pemeriksaan misteri kematian polisi Bripka AS dipindahkan dari Polda Sumatera Utara ke Mabes Polri," harap Hotman Paris.
Menurutnya, penyelidikan kasus ini bisa berjalan secara objektif bila ditangani langsung oleh Mabes Polri.
Dia behrarap nantinya akan terbongkar siapa saja dalang di balik kematian Bripka Arfan Saragih.
"Ditarik pemeriksaannya ke Mabes Polri, untuk membongkar siapa di belakang dalang kematian tersebut," ungkap Hotman Paris.
Menurutnya, bila pemeriksaannya masih di Polda Sumut, bisa terjadi kendala psikologis, karena faktor kedekatan.
"Kalau di Medan rasa-rasanya masih terlalu dekat dengan Kepolisian di Samosir. Harus yang lebih objektif di Jakarta, di Mabes Polri. Salam Hotman Paris," ucap Hotman, yang dalam video tampil dengan jas nyentrik.
Keluarga Datangi Mabes Polri
Keluarga almarhum Bripka Arfan Saragih mendatangi Mabes Polri, pada Jumat 24 Maret 2023.
Keluarga diwakili oleh kuasa hukumnya, Dolin Siahaan. Mereka ingin mendapatkan keadilan atas tewasnya Arfan.
Surat kepada Kapolri Jend Listyo Sigit Prabowo disampaikan, yang pada intinya meminta dibentuk dan diterjunkan tim pencari fakta ke Samosir.
Kepolisian juga didesak melakukan autopsi ulang, untuk memastikan penyebab kematian anggota Satlantas Polres Samosir yang selama ini bertugas di Samsat.
"Meminta Kapolri membentuk tim khusus pencari fakta atas kematian Bripka Arfan Saragih, terkhusus meminta autopsi ulang," kata Dolin Siahaan, Jumat (24/3/2023).
Mereka juga mendesak Kapolri membentuk tim menelusuri pemesanan racun.
Pihak keluarga meyakini pemesanan sianida itu bukan dilakukan oleh Arfan Saragih, melainkan orang lain.
Belakangan, Kapolres Samosir AKBP Yogie Hardiman disebut meralat dari mana racun itu dipesan.
Berdasarkan informasi awal didapat keluarga, racun dipesan melalui handphone almarhum yang disita Kapolres.
Belakangan Kapolres mengatakan, sianida dipesan lewat handphone lainnya milik Arfan.
Adanya informasi yang berubah-ubah ini telah membuat keluarga makin curiga Bripka Arfan bukan bunuh diri.
Dolin Siahaan menerangkan, selain bersurat ke Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto, mereka juga akan mendatangi Kompolnas dan Menkopolhukam.
Mereka berharap kejanggalan kematian Bripka Arfan Saragih ini bisa segera terungkap.
Apalagi mereka sudah melaporkan ke Polda Sumut atas dugaan Bripka Arfan tewas bukan bunuh diri, melainkan diduga dibunuh.
Keluarga Meyakini Pembunuhan
Bripka Arfan Saragih, ditemukan tewas di Dusun Simullop, Kelurahan Siogung Ogung, Kecamatan Pangururan.
Dia ditemukan oleh rekannya sesama anggota polisi pada 6 Februari 2023.
Lokasi penemuan jasad Arfan ini memang bukanlah jalan yang ramai dilintasi pengendara.
Namun selalu saja ada warga yang melintas dari sana. Dari lokasi jasad Arfan ini, terlihat jelas keindahan Pulau Tulas.
Dia ditemukan setelah tiga hari pergi dari rumah, yang pamit untuk bekerja.
Menurut polisi, Arfan meninggal karena minum sianida, diduga akibat ketahuan atas penggelapan pajak kendaraan warga Rp 2,5 milliar.
Belakangan kasus tewasnya Bripka Arfan ini dinilai janggal oleh keluarganya.Mereka menduga Arfan dibunuh.
Jeni Simorangkir, istri Arfan, menyebut suaminya menyetorkan uang Rp 700 juta baru-baru ini.
Uang itu didapat dari hasil penjualan rumah mereka. Jeni menyebut bahwa suaminya pernah diancam Kapolres Samosir, AKBP Yogie Hardiman.
Fince Saragih, ayah dari Arfan, mengatakan, wajah anaknya mengalami luka seperti tersiram air panas.
Selain itu pada bagian telinga mengeluarkan darah, kepala belakang ada luka seperti dipukul pakai benda tumpul.
"Wajah anakku itu hitam sebelah kiri, mata juga terbuka satu, lalu tanganya diletakkan di dadanya. Kepala belakangnya luka seperti dipukul, terus di tulang rusuk juga," ujar Fince. (*)
Baca juga: Profil Kapolres Samosir AKBP Yogie Hardiman, Disorot Pada Kasus Kematian Bripka Arfan Saragih
Baca juga: Kisah Amron Naibaho, Lulusan ITB Yang Sukses Di Industri Parfum
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.