Perang Rusia Ukraina
Gara-gara Perang Ukraina vs Rusia, Stok Senjata NATO Semakin Menipis
Menipisnya senjata bagi NATO dalam beberapa bulan terakhir diyakini sebagai akibat perang Rusia dan Ukraina.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM - Dampak perang Rusia adalah semakin menipisnya senjata bagi NATO dalam beberapa bulan terakhir.
Berbagai persenjentaan telah dipasok untuk memenuhi kebutuhan Ukraina yang berjuang hadapi invasi.
Kini Kiev pun sedang kekurangan amunisi untuk menghadapi Kremlin, meskipun bantuan terus berdatangan.
Jalan terakhir adalah percepatan produksi besar-besaran guna antisipasi krisis senjata.
Hal ini disampaikan Duta Besar AS untuk NATO , Julianne Smith.
Kini AS, NATO, dan Uni Eropa berupaya mendesak industri militer barat untuk meningkatkan produksi guna mengatasi kekurangan tersebut.
Berbicara di sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga pemikir CSIS, Smith menggunakan contoh Estonia.
Sejumlah bantuan telah disalurkan Estonia ke Ukraina dan sekarang menghadapi beberapa kekurangan yang sangat nyata.
“Mereka tidak sendirian. Kami melihat bahwa di seluruh aliansi tertulis besar-besar (tentang menipisnya senjata),” kata perwakilan tetap AS untuk NATO ini.
NATO telah menugaskan Konferensi Direktur Persenjataan Nasional (CNAD) untuk menangani masalah penurunan stok di seluruh aliansi.
Uni Eropa telah meluncurkan inisiatif terpisah yang ditujukan untuk industri militer. “Banyak bunga bermekaran di sini,” kata Smith menggunakan perumpamaan.
Ia menambahkan kuncinya adalah menemukan jaringan ikat sehingga UE, NATO, dan AS bekerja sama dan tidak bertentangan.
Bulgaria Kirim Senjata
Bulgaria pada Sabtu (10/12/2022) akan mengirim senjata ke Ukraina.
Menurut pejabat pemerintah Sofia terutama yang akan dikirim adalah persenjataan ringan dan amunisi.
Dikutip dari Reuters, Menteri Pertahanan sementara Dimitar Stoyanov menyebut Bulgaria tidak dapat mengirim sistem rudal anti-pesawat buatan Rusia atau jet tempur MIG-19 dan SU-25, yang diinginkan Kyiv.
Sementara itu, hingga kini Vladimir Putin terus melancarkan serangan rudalnya.
Putin tolak pintu damai dengan Ukraina yang kini terus dipersenjatai NATO.
Moscow bahkan tutup pintu Damai seperti yang diinisiasi Presiden Amerika Joe Biden.
"Perhatian tertuju pada garis destruktif negara-negara Barat, termasuk Jerman, yang memompa senjata ke rezim Kyiv, dan sedang melatih militer Ukraina."
Putin menyoroti dukungan politik dan keuangan Barat yang membuatnya tak mungkin berdamai dengan Ukraina.
Ukraina juga tak menunjukkan niat untuk berdamai dan memenuhi syarat dari Rusia.
Putin juga bertekat untuk terus menyerang infrastruktur Ukraina meski dampaknya cukup besar.
Rencana ini disampaikan Putin kepada Kanselir Jerman Olaf Scholz melalui telepon, Jumat (2/12/2022).
Sementara itu dampak invasi Rusia, 6 juta rumah tangga Ukraina masih hidup tanpa listrik.
Kyiv kini berjuang memulihkan listrik dan pemanas di musim dingin dibantu Uni Eropa dan sejumlah negara lainnya.
Perang ini semakin mengkahwatirkan bahkan menambah derita warga.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dan mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, perang Rusia vs Ukraina bisa berlangsung selama beberapa tahun.
Presiden Volodymyr Zelensky mengkhawatirkan negaranya yang terus diserang Kremlin.
Dilansir Independent, Zelensky berharap pada bantuan PBB untuk mengatasi negaranya.
"Hari ini kami telah menerima 70 rudal. Itulah formula teror Rusia,” kata Zelensky melalui panggilan video ke ruang dewan PBB di New York, Kamis (24/11/2022).
Sejumlah fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, infrastruktur transportasi, dan daerah pemukiman juga semuanya terkena serangan Rusia.
Kiev menanti "reaksi yang sangat tegas" dari dunia terhadap serangan udara Rusia hari Rabu, tambahnya.
Dia juga menyerukan agar Kremlin tidak memberikan suara pada keputusan apa pun terkait tindakannya.
“Kita tidak bisa menjadi sandera satu teroris internasional,” katanya.
“Rusia melakukan segalanya untuk membuat generator energi menjadi alat yang lebih kuat daripada Piagam PBB.”
Dikutip dari laman euractiv, Zelenskyy meminta masyarakat untuk menghemat listrik.
Saat ini wilayah dengan kondisi yang parah ada di Kyiv, Vinnytsia di barat daya, Sumy di utara, dan Odesa di Laut Hitam.
Zelenskyy mengatakan bahwa setengah dari kapasitas listrik negara itu telah dihancurkan oleh roket Rusia.
“Kerusakan sistematis pada sistem energi kita akibat serangan teroris Rusia sangat besar sehingga semua orang dan bisnis kita harus berhati-hati dan mendistribusikan kembali konsumsi mereka sepanjang hari,” kata Zelenskyy dalam pidato video malamnya.
“Cobalah untuk membatasi konsumsi listrik pribadi Anda.”
Jutaan orang Ukraina kemungkinan besar hidup dengan pemadaman listrik – kejadian sehari-hari di seluruh negeri – setidaknya hingga akhir Maret, kata kepala penyedia energi utama, Senin (21 November).
“Persiapkan pakaian hangat, selimut, pikirkan opsi yang akan membantu Anda menunggu pemadaman yang lama,” kata Kovalenko. "Lebih baik melakukannya sekarang daripada sengsara." ujarnya.
Pihak berwenang di ibukota Ukraina, Kyiv, memperingatkan kota itu dapat menghadapi "penutupan total" jaringan listrik saat musim dingin tiba.
“Sayangnya Rusia terus melakukan serangan rudal terhadap infrastruktur sipil dan kritis Ukraina. Hampir setengah dari sistem energi kita dinonaktifkan,” kata Denys Shmyhal, yang dikutip dari Al Jazeera.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan sekitar 10 juta orang di Ukraina hidup tanpa listrik. Dia mengatakan pihak berwenang di beberapa daerah Ukraina memerintahkan pemadaman listrik darurat.
Operator jaringan listrik nasional Ukraina Ukrenergo mengatakan Rusia telah meluncurkan enam serangan rudal berskala besar terhadap infrastruktur energi Kyiv antara 10 Oktober hingga 15 November.
Rusia telah melakukan serangan signifikan di seluruh Ukraina setelah jembatan utama yang menghubungkan Semenanjung Krimea rusak sebagian akibat ledakan pada Oktober.
Moskow menyalahkan Kyiv atas ledakan itu, tuduhan yang telah dibantah Ukraina.
Dengan suhu turun hingga nol derajat dan salju pertama tahun ini telah terlihat di Kyiv, para pejabat Ukraina bekerja untuk memulihkan jaringan listrik nasional setelah Rusia melakukan pemboman terberat terhadap infrastruktur sipil Ukraina dalam perang yang sudah berlangsung sembilan bulan ini.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bencana kemanusiaan di Ukraina pada musim dingin ini karena kekurangan listrik dan air.
“Kami sedang mempersiapkan skenario yang berbeda, termasuk penutupan total,” kata wakil kepala pemerintah kota Kyiv, Mykola Povoroznyk.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukannya telah menggunakan senjata jarak jauh pada Kamis (17/11/2022) untuk menyerang fasilitas pertahanan dan industri Ukraina, termasuk "fasilitas pembuatan rudal".
Artikel ini diolah dari TRIBUNNEWS.COM
Baca juga: Makin Terjepit, Ukraina Diserang Rusia dari 230 Lokasi Strategis
Baca juga: Bulgaria Kirim Senjata ke Ukraina, Presiden Rusia Tutup Pintu Perdamaian
Baca juga: Rusia Klaim Drone Ukraina Serang Wilayahnya, Perang Kembali Panas?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Ribuan-senjata-NATO-yang-akan-dikirim-ke-Ukraina-disita-militer-Rusia.jpg)