Kapolda Jambi Minta Masyarakat Jangan Terjebak Berita Hoaks: Teliti dan Jangan Mudah Percaya

Sebab, berita bohong atau hoaks kerap ditemukan bersileweran di edia sosial dan grup-grup WhatsApp.

Editor: Rahimin
Tribunjambi.com/Aryo Tondang
Kapolda Jambi, Irjen Pol Rusdi Hartono. 

TRIBUNJAMBI.COM - Masyarakat diminta jangan mudah percaya dengan berita atau informasi yang belum tahu kebenarannya.

Untuk itu, Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono mengingatkan masyarakat harus bijak menyikapi berita atau informasi yang tersebar di media sosial.

Sebab, berita bohong atau hoaks kerap ditemukan bersileweran di edia sosial dan grup-grup WhatsApp.

Hal itu dikatakan Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono melalui Kabid Humas Kombes Pol Mulia Prianto.

"Seperti kita ketahui, media sosial dan grup WhatsApp menjadi satu media yang digunakan untuk menyebarkan berita hoaks. Jadi kita harus benar benar teliti dan jangan mudah percaya," ujarnya, Sabtu (10/12/2022).

Dikatakan Kombes Pol Mulia Prianto, ada beberapa tips agar tidak terjebak dengan berita hoaks.

Yakni, kita harus hati-hati  dengan Judul yang mengandung provokatif.

"Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. Misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks,"ujarnya.

Selain itu, cermati alamat situs. Sebab, informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Berita yang berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43 ribu situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300.

"Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai," katanya.

Masyarakat juga diminta periksa fakta. Caranya, dari mana berita berasal dan siapa sumbernya?

Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

"Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif," ujarnya.

Bukan itu saja, kata Mulia, di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.

"Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan."

"Semoga mayarakat bisa terhindar dari berita hoaks. Tak kalah penting harus teliti dan bijak menyikapi berita di media sosial. Jangan mudah terpancing," pungkasnya.

Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Ditresnarkoba Polda Jambi Razia Kos-kosan, Tiga Pemuda Positif Konsumsi Narkoba Diamankan

Baca juga: Respon Keras Dirlantas Polda Jambi soal Kebijakan Ganjil-Genap Truk Batu Bara

Baca juga: Kapolda Jambi Imbau Masyarakat Jangan Ikut Share Foto dan Video Bom Meledak di Polsek Astanaanyar

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved