Orang Rimba

Jalan Terjal Juliana Memperjuangkan Kesetaraan Gender Orang Rimba

Juliana adalah perempuan dari komunitas Orang Rimba yang pertama kuliah. Juliana kuliah di universitas Muhammadiyah Jambi jurusan kehutanan

TRIBUNJAMBI/SUANG SITANGGANG
Juliana sedang membaca buku di Kantor Pundi Sumatera, Senin (21/11/2022). Juliana merupakan perempuan pertama dari komunitas Orang Rimba yang sampai ke bangku kuliah. 

Penampilan Juliana saat ini tidak berbeda dengan kaum perempuan pada umumnya. Dia kini tinggal di Kota Jambi, sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Jambi. Sebelas tahun silam, dia tinggal di kawasan hutan. Juliana berasal dari komunitas Orang Rimba rombongan Tumenggung Hari.

Orang Rimba merupakan komunitas masyarakat yang bermukim di dalam hutan di Provinsi Jambi. Mereka tinggal secara berkelompok. Tiap kelompok dipimpin oleh satu tumenggung. Sebagian besar tinggal di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, sebagian kecil di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, dan kini juga tersebar hutan-hutan sekunder sepanjang jalur lintas Sumatera wilayah Jambi.

Senyum terlukis di bibirnya saat menerima kedatangan Tribun, Senin (21/11/2022). Juli, demikian biasa dipanggil, pagi itu menggunakan kemeja putih lengan panjang, dipadu bawahan hijau, serta penutup kepala berupa jilbab pink. Saat bicara, volume suaranya terdengar relatif kecil.

Juliana merupakan perempuan pertama dari komunitas Orang Rimba yang sampai ke bangku kuliah. “Saya sekarang sudah semester V, jurusan kehutanan,” katanya. Upaya mendapatkan gelar sarjana sudah setengah jalan. Anak kedua dari empat bersaudara ini bertekad menuntaskan perjuangannya.

Diakuinya, tak mudah untuk mencapai mimpi menjadi sarjana ini. Tantangannya banyak, termasuk larangan dari komunitas sendiri. Sejak SMP, Juli sudah diminta keluarga tidak melanjutkan sekolah, lebih baik menikah. Dia tetap merasa beruntung, karena orang tuanya tidak ikut memintanya setop melanjutkan pendidikan, namun juga tidak mendukung penuh upayanya mencapai cita-cita.

“Sampai sekarang orang tua tidak melarang saya untuk kuliah. Teman sebaya saya sudah hampir semuanya menikah,” ungkapnya.
Belum ada yang tercatat perempuan dari komunitasnya sampai ke tahap pencapaian ini. Untuk laki-laki sudah beberapa orang yang kuliah, atau pernah kuliah. Orang Rimba pertama yang mengenyam bangku kuliah adalah laki-laki yang bernama Besudut, menempuh pendidikan di Universitas Jambi.

Dewi Yunita Widiarti, CEO Pundi Sumatera, NGO yang mendampingi rombongan Tumenggung Hari mengatakan, banyak faktor yang membuat perempuan komunitas Orang Rimba, disebut juga Suku Anak Dalam (SAD) dan Komunitas Adat Terpencil (KAT) kesulitan mengenyam pendidikan tinggi.

Di antara faktor penghambatnya adalah tradisi dalam SAD, yang masih menempatkan perempuan hanya mengurusi internal keluarga mulai dari urusan dapur, kasur, dan sumur. Orang Rimba punya prinsip, urusan mencari nafkah terletak pada laki-laki. “Ada juga ketakutan bagi mereka, bila anak perempuan kuliah, takut tidak pulang lagi ke kelompoknya akibat pengaruh luar,” ungkap Dewi.

Menurut Suka Reni, Manager Komunikasi KKI Warsi, faktor penghambat lainnya adalah pemaknaan usia dewasa dalam komunitas itu. Reni mengatakan, perempuan yang sudah mengalami menstruasi dianggap sudah dewasa. Perempuan Rimba menjadi sangat dominan menikah usia belasan tahun, yang pada akhirnya membuat mereka tak lagi melanjutkan pendidikannya.

“Peran perempuan dalam tradisi mereka, tidak bertanggung jawab mencari nafkah. Tugas utama dari seorang istri adalah menjaga harta, atau mengelola penghasilan yang diserahkan suami, dan urusan internal dalam rumah tangga,” tutur Reni.

10 Tahun Hidup Menetap

Sebuah gapura bercat biru yang warnanya sudah tidak cerah lagi, menyambut setiap orang yang masuk komplek pemukiman yang dibangun pemerintah, di Dusun Kelukup, Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi. Jaraknya sekitar 260 kilometer dari Kota Jambi.

Untuk bisa sampai ke tempat ini, harus melewati jalan tanah dari desa sebelumnya. Di sisi kanan dan kiri jalan terbentang perkebunan kelapa sawit. Setelah melewati gapura itu, langsung terhampar 60 rumah ukuran tipe 36. Rumah di sana dibangun berjajar mengikuti jalan.

Konstruksi bangunan itu pada awalnya menggunakan dinding dari bahan glass reinforced concrete (GRC). Belakangan banyak yang sudah mengganti GRC dengan papan, agar tidak kepanasan. Di pemukiman itulah dua rombongan Orang Rimba dimukimkan satu dekade lalu, yakni dari kelompok Tumenggung Badai dan Tumenggung Hari. Orang tua Juliana juga tinggal di pemukiman itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved