Editorial

Setelah Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana Dunia Sepak Bola Kita Berbenah?

TRAGEDI di Stadion Kanjuruhan Malang menjadi duka bukan hanya bagi dunia sepak bola Indonesia tapi juga dunia.

Editor: Deddy Rachmawan
Surya Malang/Purwanto
Suporter Arema membopong korban dalam rusuh antara massa suporter melawan polisi yang melakukan pengamanan di pertandingan sepakbola antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu malam 1 Oktober 2022. 

TRAGEDI di Stadion Kanjuruhan Malang menjadi duka bukan hanya bagi dunia sepak bola Indonesia tapi juga dunia.

Setelah data awal sebanyak 125 orang dinyatakan meninggal dunia, per kemarin jumlahnya menjadi 131 orang. Selain itu ada 467 orang luka-luka.

Kejadian ini bak petir di siang bolong, karena begitu cepat merenggut banyak nyawa. Tragedi terjadi setelah laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10) malam.

Laga yang awalnya berakhir tertib untuk kemenangan tim tamu, berubah jadi malapetaka dengan munculnya invasi suporter Arema yang memprotes pemain serta official tim yang kalah 2-3 atas Persebaya.

Kericuhan tak terelakkan antar pemain dan satuan pengamanan di dalam stadion, hingga akhirnya muncul tragedi yang memakan banyak korban.

Entah apa yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan ini bisa terjadi, hingga akhirnya kericuhan ini jadi sorotan dunia dan membuat semua pihak turun tangan mencari akar permasalahnnya.

Banyak hal jadi sorotan, dari penggunaan gas air mata hingga beberapa pintu keluar stadion yang terkunci. Tembakan gas air mata inilah yang diduga memicu kepanikan dan membuat penonton berebut keluar stadion.

Imbasnya, suporter berdesak-desakan, hingga ada yang terinjak-injak dan kesulitan bernapas.

Menilik aturan, penggunaan gas air mata di dalam stadion sudah dilarang oleh FIFA, lembaga yang menaungi sepak bola dunia.

Merujuk FIFA Stadium Safety and Security Regulations, petugas keamanan dilarang membawa atau menggunakan senjata api dan gas pengendali massa.

Baca juga: TEGAS! Presiden Jokowi Perintahkan PSSI Menghentikan Sementara Liga 1

Baca juga: Jokowi Beri Waktu TGPF Tragedi Kanjuruhan Sebulan Bekerja, Polri akan Tetapkan Tersangka

Namun disayangkan hal ini malah dilontarkan ke tribun penonton.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan ini bisa saja menimbulkan kerugian besar bagi sepak bola Indonesia. FIFA selaku badan pengendali internasional sepak bola, hingga saat ini memang belum buka suara mengenai hukuman bagi federasi sepak bola di Indonesia.

Hanya saja, menilik dari berbagai kejadian serupa, apabila mendapat hukuman dari FIFA sangat mungkin Timnas Indonesia yang akhirnya lolos ke Piala Asia 2023 dan Timnas Indonesia U-20 juga memastikan akan berlaga di Piala Asia U-2023 terancam dicoret.

Tapi kita berharap semoga itu tak terjadi. Termasuk agar Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 tak terdampak.  Ini dipastikan menjadi pukulan berat bagi dunia sepak bola Indonesia, terlebih ketika prestasi Tim Nasional sepak bola Indonesia sedang bagus-bagusnya.

Baca juga: Arema FC Diganjar Hukuman Laga Tanpa Penonton, Kena Denda Rp250 Juta

Maka tragedi Kanjuruhan ini harusnya jadi pembelajaran buat PSSI selaku federasi sepak bola di Indonesia untuk berbenah.

Evaluasi wajib dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan lagi. Banyak hal yang perlu divealuasi.

Kita berharap sepak bola Indonesia bisa menjadi sumber hiburan bagi pecintanya, dan tentu menjadi jalan karier dan prestasi bagi pemain dan bangsa ini.

Tentunya tanpa ada lagi tragedi-tragedi yang sampai merenggut nyawa satu orang pun. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved