Editorial

Menanti Aksi Tim Investigasi Tragedi Kanjuruhan

Banyaknya jumlah korban meninggal dalam peristiwa ini, menunjukkan perlunya tragedi di Stadion Kanjuruhan tersebut harus diusut tuntas.

Editor: Deddy Rachmawan
Suryamalang/Purwanto
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pasca kekalahan Arema FC vs Persebaya Surabaya 2-3. 

SEBANYAK 125 orang dinyatakan meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Selain itu lebih dari ratusan orang yang mengalami luka berat maupun ringan.

Banyaknya jumlah korban meninggal dalam peristiwa ini, menunjukkan perlunya tragedi di Stadion Kanjuruhan tersebut harus diusut tuntas.

Jumlah korban meninggal hingga saat ini setara dengan 20 persen jumlah korban meninggal dunia akibat seluruh bencana di Indonesia sepanjang tahun 2021.

Untuk mengusut kasus ini, Menteri Koordinator Polhukam Mahfud MD sudah membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta. Memang sudah selayaknya demikian.

Kasus ini tak boleh dianggap peristiwa biasa. Nyawa mereka yang hilang dalam tragedi ini tak mungkin lagi bisa dikembalikan. Walau begitu, tetap dibutuhkan kebenaran atas peristiwa ini, dan keadilan bagi para korban, terlebih bagi keluarga yang sangat berduka.

Pada berbagai dokumentasi, terlihat jelas bagaimana sikap represif aparat dalam penanganan kondisi yang dianggap crowded.

Sejumlah fans Arema FC yang sedang berjalan ke luar dari lapangan, ada yang kena hajar. Meskipun kita tak boleh tutup mata bagaimana suporter  berlari ke dalam lapangan seusai Arema FC menelan kekalahan dari Persebaya Surabaya.

Baca juga: Kasus Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Naik ke Penyidikan, Calon Tersangka Kena Pasal Berlapis

Baca juga: Pintu Stadion Kanjuruhan yang Terbuka Hanya 2, Investigasi Komnas HAM Temukan Indikasi Pelanggaran

Tim perlu mendalami peristiwa ini, mulai dari bagaimana bisa terjadi, hingga siapa saja yang telah melakukan kesalahan.

Perlu pula digali fakta di luar pertandingan, semisal jumlah penonton apakah melebihi kapasitas stadion, potensi kerusuhan, perizinan jadwal pertandingan yang kabarnya sudah diminta agar dimajukan lebih awal.

Mereka yang bersalah, harus bertanggung jawab secara hukum. Tujuannya, agar peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bangsa ini.

Kita semua tidak ingin peristiwa yang sama terjadi di masa yang akan datang. Semua yang dianggap perlu untuk dibenahi, harus segera dibenahi.

Bahkan, kompetisi juga bisa dihentikan selama tidak ada pembenahan pada aspek manajemen pertandingan sepak bola di negara ini.

Baca juga: DAFTAR KELAM! 15 Tragedi dalam Sejarah Sepak Bola, termasuk Kerusuhan usai Arema FC vs Persebaya

Baca juga: Update Tragedi Arema vs Persebaya, Korban Tewas Jadi 182, Presiden Perintahkan Liga Setop Sementara

Kasus fans masuk ke dalam lapangan, kerap terjadi pada laga sepak bola Indonesia, baik pertandingan profesional terlebih amatir.

Artinya, peristiwa serupa berpotensi terjadi di masa yang akan datang bila tidak dilakukan segera pembenahan pada aspek manajemen pertandingan. Selain tentunya bagaimana memberi edukasi kepada fans atau suporter.

Semoga saja, semua pihak yang terlibat dalam sepak bola Indonesia benar-benar menjadikan tragedi Stadion Kanjuruhan ini sebagai pelajaran. Jangan dianggap ini sebuah peristiwa biasa.

Tak ada sepak bola seharga nyawa.

Semoga tim investigasi yang telah dibentuk ini mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka harus bisa berjalan independen, melupakan baju yang digunakan, berpihak pada kebenaran. Tanpa kebenaran, yang mungkin terjadi adalah kejadian serupa di masa mendatang. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved