Berita Jambi

Kasus Investasi Lele PT DHD di Jambi, Mulai Jalani Persidangan di Pengadilan Negeri Jambi

Pelaku penipuan Aliman Sutrisno, didakwa telah melakukan penipuan terhadap ratusan korbannya di Jambi melalui investasi budidaya lele.

Penulis: Deni Satria Budi | Editor: Deni Satria Budi
ARYO TONDANG/TRIBUNJAMBI.COM
Melihat Lokasi PT DHD Farm di Sungai Gelam, Ribuan Lele Mati dan Kolam Ditumbuhi Semak 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pelaku penipuan Aliman Sutrisno, didakwa telah melakukan penipuan terhadap ratusan korbannya di Jambi melalui investasi budidaya lele. Kasus inipun sudah berjalan di pengadilan dan sidang kedua dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, Rabu (14/09/2022). 

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Kejaksaan Tinggi Jambi, Noraida Silalahi, mengatakan, terdakwa melakukan perbuatannya secara bersama-sama, melalui PT Darsa Hakam Darussalam Mitra Indotama (PT DHD). Sedangkan terdakwa Aliman adalah orang yang menjalankan perusahaan tersebut. Perbuatannya dilakukan bersama-sama dengan Irma Wahida, Heriyanto, Dodi Sulaiman dan Medi Siswanto. Perbuatan mereka dilakukan sejak Juli 2019 sampai Juli 2021.

Masih dalam dakwaan penuntut umum, dalam upaya mempromosikan bisnis pembudidayaan lele tersebut, PT DHD melakukannya melalui internet dengan menawarkan skema kemitraan dengan masyarakat.

"Untuk menjadi mitra maka dapat menyerahkan modal sebesar Rp10 juta per paket. Nantinya mitra tersebut akan mendapatkan hasil panen lele sebesar Rp960 ribu per 40 hari, yang dibayarkan sebanyak 8 kali setahun, selama 5 tahun berjalan," bunyi surat dakwaan penuntut umum.

Dalam prosesnya, PT DHD cukup meyakinkan. Mereka juga menawarkan kepada calon mitra untuk melihat kolam. Dari situ banyak masyarakat yang tergiur dan ikut dalam investasi tersebut.  Selanjutnya dibuat pula perjanjian terkait kemitraan itu.

Dalam perjalanannya, DHD yang berbentuk PT berubah menjadi koperasi. Koperasi Darsa Hakam Darussalam Farm Indonesia (KDHDFI). Dalam kepengurusan koperasi, Heriyanto (DPO) yang menjabat sebagai komisaris utama dalam PT DHD menunjuk Medi Siswanto (DPO) sebagai ketua koperasi, dan Rahman Haris sebagai bendahara.

Terkait perubahan itu, pihak DHD beralasan jika perusahaan banyak membawahi unit usaha sehingga perlu diubah agar menjadi wadah yang lebih proporsional. Tidak hanya itu, seiring perubahan bentuk perusahaan, modal usaha juga berubah menjadi Rp12 juta per paket. Sementara skema dan nilai keuntungan tidak berubah.

Penanggung jawab investasi, dalam dakwaan penuntut umum, disebutkan sering berubah. Saat perjanjian atas nama PT Darsa Hakam Darussalam Mitra Indotama ditandangani oleh Rudi Salam. Saat atas nama PT DHD Mitra Indotama, ditandatangani oleh Irma Wahida, dan saat atas nama Koperasi DHDFI, ditanda tangani oleh Medi Siswanto.

Baca juga: Polda Jambi Tetapkan Komut hingga Dirut Sebagai Tersangka Baru Kasus Investasi Lele

Untuk semakin meyakinkan mitranya, di awal investasi, pihak perusahaan benar-benar memberikan keuntungan sesuai dengan waktu yang disepakati. Karenanya, banyak mitra yang menambahkan modal mereka. Berdasarkan perjanjian, setiap satu paket kemitraan berhak atas pengelolaan satu kolam. Namun pada kenyataannya, terdakwa Aliman memerintahkan penjaga kolam untuk menggonta-ganti nama kolam berdasarkan mitra yang ingin melihat kolam.

Seiring berjalannya waktu, setelah banyak mitra yang menambahkan paket kemitraan, keuntungan tidak lagi diberikan. Bahkan saat diminta untuk mengembalikan uang, terdakwa Aliman tidak bertanggung jawab.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved