Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Prof dr Zubairi Djoerban; Penderita HIV/AIDS Jangan Putus Obat (Bagian-1)

Pionir penanganan HIV/AIDS di Indonesia Prof. dr. Zubairi Djoerban angkat bicara soal merebaknya kasus HIV di wilayah Jawa Barat.Dokter

Editor: Fifi Suryani
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Pionir penanganan HIV/AIDS di Indonesia Prof. dr. Zubairi Djoerban saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Jakarta, Jumat (2/9). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Pionir penanganan HIV/AIDS di Indonesia Prof. dr. Zubairi Djoerban angkat bicara soal merebaknya kasus HIV di wilayah Jawa Barat.Dokter spesialis penyakit dalam dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menilai penyebaran masif HIV bisa diakibatkan beberapa faktor.Prof Zubairi menyebut satu di antara alasannya banyak pasien HIV/AIDS yang putus meminum obat karena merasa sudah bugar.

"Sayangnya yang putus obat cukup banyak, putus obat yang banyak ini kemudian setelah 1 tahun, kondisinya menurun, sebagian lain meninggal dan sebagian lagi datang lagi, kemudian diberikan obat lini 2," kata Zubairi di Jakarta Breast Center, Jumat (2/9/2022).

Menurutnya, pemerintah Indonesia sangat menaruh perhatian terhadap penyakit HIV/AIDS.

Terbukti obat HIV/AIDS hingga kini digratiskan seumur hidup kepada seluruh masyarakat.

"Untungnya pemerintah menyediakan obat Anti Retroviral (ARV) gratis seumur hidup. Jadi pasien-pasien HIV/AIDS tidak ada alasan berhenti minum obat," tukasnya.

Berikut kutipan wawancara Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dengan Prof. dr. Zubairi Djoerban:

Soal kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia, dan Prof terlibat di dalam temuan itu, bisa diceritakan?

Pada tahun 1982-1983 saya mendapat tugas belajar ke Perancis belajar lebih jauh mengenai leukimia, untuk memeriksa leukemia yang ternyata yang macam-macam itu diperlukan tes antibodi monoklonal untuk antara lain untuk memeriksa CT form. 

Kemudian di tahun 1983 itu saya pertama kali di rumah sakit di bagian selatan Perancis ada kasus pertama itu HIV/AIDS waktu itu virusnya belum ketahuan hanya keluhannya kekebalan turun lama-lama menurun dan meninggal. Kemudian kekebalannya drop hanya CT form 4,5.

Akhirnya balik tahun 1983 ke Jakarta, dan lapor ke kepala departemen. Kami coba test waria di Taman Lawang, ada beberapa waria yang CT form rendah sekali. Meskipun CT formnya rendah tapi masih banyak penyebab lain.

Beberapa tahun kemudian saya tanya pada lingkungan ternyata sudah menjalar. Kebetulan atau entah kenapa dari teman media dari majalah Tempo terbit di majalah Tempo kemudian dipublikasikan di Kongres penyakit dalam tahun 1984. 

Jadi tahun 1984 baru ketemu mula-mula virusnya, jadi virusnya kemudian tahun 1985 bulan Juli sampai dengan pertemuan Edge pertama dunia di di Atlanta di situ kemudian ketahuan virusnya namanya HIV.

Nah tes itu kemudian saya bawa ke Indonesia tahun 1986, ada kasus di Rumah Sakit Islam dan saya bekerja di sana perempuan dengan autoimun karena kondisinya lemah saya periksa ternyata positif. Dan kemudian juga meninggal dan menjadi viral istilahnya. Itu kasus-kasus pertama.

Si X ini, yang terinfeksi HIV. Itu dia dapatnya dari mana?

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved