Harga Kelapa Sawit

Harga Sawit Rendah, Petani Pilih Gunakan Tankos Sebagai Pupuk Agar Minim Pengeluaran

Rendahnya harga kelapa sawit di tingkat petani, menyebabkan petani kelapa sawit di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ( Tanjabtim) tak sanggup membeli

Penulis: Rifani Halim | Editor: Suci Rahayu PK
Tribunjambi.com/Rifani Halim
Petani kelapa sawit di Tanjab Timur pilih pakai tangkos sebagai pupuk untuk meminimalkan pengeluraan karena harga sawit rendah. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Rendahnya harga kelapa sawit di tingkat petani, menyebabkan petani kelapa sawit di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ( Tanjabtim) tak sanggup membeli pupuk.

Ini membuat petani kelapa sawit putar otak dan akhirnya menggunakan pupuk organik berupa tandan kosong, selain tak sanggup membeli pupuk, langkah ini dinilai sebagai cara jitu guna memelihara kebun sawit milik petani.

Pupuk menjadi faktor yang krusial bagi petani kelapa sawit. Hal ini dikarenakan pupuk berfungsi sebagai pasokan nutrisi utama agar pertumbuhan tanaman kelapa sawit bisa optimal. Sehingga hasil panennya juga maksimal.

Namun, saat ini pupuk subsidi jumlahnya terbatas dan masih banyak petani di Kabupaten Tanjung Jabung timur yang tak kebagian pupuk subsidi.

Sementara harga pupuk non subsidi juga dirasa mahal.

Kondisi ini membuat pengeluaran petani kelapa sawit tak sebanding dngan pemasukannya.

Sebagaimana diketahui harga TBS kelapa sawit saat ini hanya berkisar di harga Rp 700 rupiah per kilogram.

Baca juga: Harga TBS Sawit di Jambi Anjlok, Fraksi Golkar Minta Perhatian Khusus dari Pemprov Jambi

Baca juga: Capaian Serapan Anggaran Masih Rendah, Fraksi Golkar Minta Ditingkatkan Lagi

Kondisi ini pun membuat para petani untuk mencari alternatif lain, seperti menggunakan pupuk organik.

Basri Putra salah seorang petani di Kecamatan Muara Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menggunakan tangkos sebagai alternatif pengganti pupuk.

"Menggunakan tandan kosong atau tankos sawit sebagai pupuk organik untuk mengurangi pengeluaran," katanya, Senin (1/8/2022).

Cara yang mereka lakukan cukup sederhana namun jitu. Tankos yang masih segar dibiarkan di tempat terbuka selama empat minggu atau sebulan. Peletakan tankos disarankan berbentuk gunungan.

Meski tidak mudah, ketergantungan terhadap pupuk subsidi atau kimia pun sebenarnya bisa dikurangi.

Asalkan pupuk organik harus mulai menjadi pilihan utama dan peran dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini.

"Pupuk bersubsidi selain jarang, pupuk subsidi yang beredar dirasa kurang baik ketimbang pupuk non subsidi meski kocek yang dikeluarkan dua kali lipat," ujarnya.

Basri bersama petani setempat lebih memilih menggunakan pupuk alternatif berupa tankos yang dibeli dari pabrik kelapa sawit sebab pemanfaatan tankos sebagai bahan dapat mengurangi biaya pembelian pupuk dan dapat menjaga kelestarian kandungan bahan organik lahan kelapa sawit serta kandungan hara dalam tanah. (Tribunjambi.com/Rifani Halim)

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Fraksi Golkar Minta Pemprov Jambi Aktif Perjuangkan Pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung

Baca juga: Harga TBS Sawit di Jambi Anjlok, Fraksi Golkar Minta Perhatian Khusus dari Pemprov Jambi

Baca juga: Usut Kematian Brigadir Yosua, Komnas HAM Periksa Ajudan dan ART Ferdy Sambo

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved