Perang Rusia Ukraina

Dilema Tentara Rusia, Dipenjara atau Maju Berperang Lawan Ukraina

Artikel ini membahas tentara Rusia hanya memiliki dua pilihan, dipenjara atau berperang melawan Ukraina.

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
(FILIPPO MONTEFORTE / AFP)
Tentara Rusia berpatroli di Perevalnoye Ukraina. Rusia bertindak tegas terhadap tentaranya yang ogah perang di Ukraina 

TRIBUNJAMBI.COM - Dilema tentara Rusia hanya memiliki dua pilihan, dipenjara atau berperang melawan Ukraina.

Tentara Rusia yang menolak berperang melawan Ukraina akan menghadapi resiko dipenjara.

Resiko dipenjara harus dihadapi tentara Rusia yang menolak perang dengan Ukraina.

Hal ini terjadi pada prajurit Brigade Serangan Udara Pengawal ke-11, sebuah unit militer dari Republik Siberia Buryatia.

Brigade yang ditempatkan di Ukraina sejak invasi Rusia mengajukan pengunduran diri mereka awal bulan ini. Namun permintaan tersebut mendapat perlawanan dari otoritas militer Rusia.

“Awalnya ada 78 (penentang), tetapi setelah beberapa putaran pemaksaan, komando militer berhasil mengurangi jumlah itu,” kata salah satu pendiri organisasi anti-perang Free Buryati Foundation, Vladimir Budaev, yang dikutip dari The Moscow Time, Minggu (24/7/2022).


Dalam sebuah video imbauan yang disebarkan oleh Free Buryatia Foundation, ibu dari salah satu tentara, Oksana Plusnina mengatakan setelah menolak untuk menerima permintaan pengunduran diri, komandan brigade membagi para penentang menjadi kelompok-kelompok kecil.

Kemudian kelompok tersebut dibagi delapan dan sepuluh orang serta mengirim mereka ke fasilitas penahanan khusus di kota Luhansk, yang terletak di Ukraina timur dan saat ini diduduki Rusia.

Tentara tidak memiliki surat identitas dengan alasan untuk melindungi mereka jika sewaktu-waktu ditangkap pasukan Ukraina.

Mereka tidak diizinkan menggunakan ponsel dan sarana lain untuk menghubungi keluarga atau pengacara mereka.


Sebelum ditahan, putra Plusnina, Ilya Kaminsky menyebut kepada saluran televisi berbahasa Rusia, TV Current Time, bahwa sekelompok rekan prajuritnya yang menolak berperang di Ukraina dikunci di garasi dan diberi makan bubur sekali sehari sebelum dikirim ke pusat penahanan.

Kaminsky juga menyediakan rekaman audio percakapan tentara dengan komandan brigade Letnan Kolonel Agafonov yang mencoba membujuk mereka untuk membatalkan pengunduran diri mereka.

Current Time TV menyensor kata-kata kasar Agafonov saat menayangkan rekaman suara tersebut.

"Delapan orang sudah (pergi ke Luhansk) dan sekarang mereka benar-benar ingin kembali ke medan perang. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan atau katakan kepada mereka," kata Agafonov dalam rekaman yang ditayangkan oleh Current Time TV.


Kaminsky awalnya menyebut telah menulis sekitar 20 permohonan pemecatan dari militer, tiba-tiba tidak dapat dihubungi setelah melakukan wawancara dengan Current Time TV.

"Kami tidak dapat berbicara dengannya atau melacak di mana dia berada sekarang atau apa yang terjadi padanya," kata Plusnina dalam video yang diposting pekan lalu.

Komandan brigade mengancam akan mengumpulkan semua penentang dan mengirim mereka ke garis depan, sebagai upaya untuk menggagalkan keputusan mereka meninggalkan medan perang.

Baca Artikel Tribunjambi.com di Google News

Artikel Ini Diolah dari Tribunnews

Baca juga: Ukraina Senang Kedatatangan 8 HIMARS dari Barat untuk Memporak-porandakan Rusia

Baca juga: Prediksi CIA 15 Ribu Tentara Rusia Tewas di Ukraina

Baca juga: Presiden Ukraina Sesumbar Kalahkan Rusia Pakai Senjata Canggih Bantuan AS Ini

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved