Lawan Covid 19

Waspada Covid Varian Baru dari India, Jokowi Wajibkan Gunakan Masker di Dalam dan Luar Ruangan

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo(Jokowi) menyampaikan jika virus Covid-19 masih ada. Karenanya, ia pun menekankan penggunaan masker.

Editor: Fifi Suryani
SHUTTERSTOCK/Naeblys
Ilustrasi varian covid-19. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo(Jokowi) menyampaikan jika virus Covid-19 masih ada. Karenanya, ia pun menekankan penggunaan masker.

Hal ini ia sampaikan setelah menunaikan salat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Minggu (10/7). Jokowi mengatakan pemakaian masker masih menjadi sebuah kewajiban.

Presiden Joko Widodo pun mengingatkan untuk memakai masker. Baik di luar mau pun di dalam ruangan.  "Saya juga ingin mengingatkan kita semua bahwa Covid-19 masih ada. Oleh sebab itu, baik di dalam mau pun luar ruangan memakai masker adalah masih sebuah keharusan," kata Jokowi.

Anjuran memakai masker ini juga diutamakan untuk kota yang memiliki interaksi masyarakat cukup tinggi. Selain itu Presiden Joko Widodo juga mengingatkan pada masyarakat untuk mendapatkan vaksin booster Covid-19

"Mengingatkan lagi pemerintah daerah, kabupaten, provinsi serta TNI dan Polri untuk terus melakukan vaksinasi booster. Karena ini diperlukan," pungkasnya.

Pemerintah melaporkan, hingga Sabtu (9/7) pukul 18.00 WIB, jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dosis pertama yaitu sebanyak 201.731.197 orang atau 96,86 persen dari total target sasaran vaksinasi. Sementara itu, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis kedua sebanyak 169.330.480 orang atau 81,31 persen.

Kemudian, masyarakat yang sudah disuntik vaksin dosis ketiga atau penguat yaitu 51.784.125 orang atau 24,86%.  Sedangkan untuk kasus Covid-19, Per Sabtu (9/7) pukul 12.00 WIB, ada 2.705 kasus positif dalam 24 jam terakhir.

Dengan demikian, total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 6.108.729, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020. Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman menyampaikan update terkait sub varian BA.75.

Sejauh ini, varian BA.75 ini masih sedang dalam proses pengumpulan data. Sehingga masih harus terus diamati karena belum solid betul. Tapi data awal memperlihatkan kemampuan sub varian BA.75 ini dalam menginfeksi atau kecepatan pertumbuhan kasus tidak kalah dengan BA.4 dan BA.5.

"Artinya hal ini tentu menjadi perlu diwaspadai. Terutama kalau saya melihat ini lahir dari India. Kalau kita tahu, varian yang lahir di sub varian India biasanya punya potensi cukup serius," ujar Dicky.

Dicky menekankan perlunya kehati-hatian dengan kemunculan varian BA.75 ini. Terutama sekarang sub varian BA.4 dan BA.5, juga mengalami peningkatan.Respon yang mesti dilakukan adalah PPKM kembali diperkuat. Tidak perlu langsung diterapkan pada level tiga atau empat.

Namun yang utama adalah pelaksanaanya harus lebih disiplin dan ketat. "Jadi lebih diawasi ketat, diperkuat lagi literasi, kedisplinan, masker dan sebagainya. Ini yang harus kita terus jaga sebetulnya," tegas Dicky.

Karena menjaga aspek pemulihan, kata Dicky tidak akan terganggu. Baik itu aktivitas sosial mau pun ekonomi, Di sisi lain, dengan adanya pengetatan dari regulasi, misalnya PPKM tadi, dapat mengantisipasi terjadi gelombang atau datangnya sub varian lain. Tidak hanya Covid-19 saja, beberapa mitigasi yang dilakukan dapat mencegah wabah lain seperti Monkeypox, difteri dan saluran nafas lainnya. "Tentu ketika kita lakukan upaya pencegahan ini, akan menguntungkan menjaga kesehatan kita, atau meminimalisir terinfeksi penyakit dari udara," pungkasnya.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved