Kesehatan

Sering Makan Ayam Broiler Picu Kanker, Pedagang Warteg Ingin Ikan Gantikan Ayam Broiler

Ayam ras pedaging (broiler) memiliki tingkat lemak yang tinggi, jika dibanding dengan ayam kampung. Ayam broiler disebut-sebut dapat memicu

Editor: Fifi Suryani
Tangkap layar Youtube Indoculinaire Hunter
Ilustrasi: ayam goreng. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Ayam ras pedaging (broiler) memiliki tingkat lemak yang tinggi, jika dibanding dengan ayam kampung. Ayam broiler disebut-sebut dapat memicu mutasi sel yang menyebabkan kanker di tubuh manusia.

Hal tersebut disampaikan oleh Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi (kanker) Prof Zubairi Djoerban. Merespon itu, Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan, belum ada penurunan pembeli ayam di warteg.

Hanya saja, menurut Mukroni, pemerintah sebaiknya fokus mengkampanyekan gemar makan ikan. Sebab, produksi dalam negeri melimpah.

"Sebenarnya Kowantara ingin program gemar makan ikan dengan produksi dalam negeri melimpah dan itu dulu sangat intens digalakan oleh Menteri Bu Susi, sekarang kelihatannya mandul," ujar Mukroni melalui keterangannya, Rabu (6/7).

Sebab, lanjut dia, dengan adanya isu makan ayam broiler dapat picu kanker, sebaiknya pemerintah mulai gencar mensosialisasikan makan ikan. Lantaran, diuntungkan dengan ikan yang melimpah.

"Kami mengharapkan pemerintah mensosialisasi program gemar makan ikan digalakkan lagi. Produk melimpah, harga terjangkau, protein tinggi, lebih sehat tidak banyak menimbulkan efek penyakit lainnya," kata Mukroni.

Sebelumnya, Prof Zubairi Djoerban menjelaskan, lemak yang tinggi pada ayam broiler memudahkan sel kanker berkembang. "Ya kalau sering banget (mengonsumsi ayam broiler), lebih memudahkan timbulnya kanker payudara. Tapi bukan karena ayamnya (yang picu kanker). Kan ayam broiler mengandung banyak lemak. Konsumsi lemak berlebihan pada diet jangka panjang memudahkan kanker payudara," ujarnya dikutip dari unggahan di instagram miliknya, Selasa (5/7).

Hal ini diperkuat pula oleh studi yang dilakukan dengan membandingkan tingkat konsumsi lemak antar negara. Dimana negara dengan konsumsi lemak tinggi masyarakatnya lebih rentan terkena kanker payudara, dibanding dengan negara yang konsumsi lemaknya rendah.

“Ini dibuktikan baik pula pada binatang percobaan, maupun juga pada beberapa negara yang konsumsi lemaknya tinggi dibandingkan dengan negara lain yang konsumsi lemaknya rendah. Ternyata kejadian kanker payudara lebih tinggi pada negara-negara dengan konsumsi lemak yang tinggi, termasuk ayam broiler,” jelasnya.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP juga memberikan tanggapan terkait hal tersebut. Sejauh ini, kata dia belum ada bukti penelitian ilmiah yang secara meyakinkan membuat kesimpulan bahwa ayam broiler memicu kanker payudara.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved